Wednesday, 16 August 2017

The Discography Girl


Kehadiran Spotify di Indonesia beberapa tahun belakangan cukup menimbulkan tren baru di kalangan manusia-manusia penghuni internet (maksudnya netizen, tapi saya bosan pakai istilah itu). Berbondong-bondong bikin playlist pribadi, yang kemudian dibagikan tautannya ke bermacam platform media sosial. Nggak apa-apa. Nggak ada masalah. Bagus, malah. Tapi di sini saya ternyata kembali tidak mampu mengikuti tren. Kembali tidak gaul.

Halah. Memangnya kapan sih saya pernah sukses di pergaulan?

But anyway... begitulah adanya. Saya kesulitan―dan kurang, bahkan menyerempet tidak, nyaman―mendengarkan yang namanya 'kompilasi'. Iya, memang ini kelakuan agak snobbish sekaligus sok elitist. Bahkan benih-benih sikap tersebut sudah nongol sejak jaman masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan kaset BIG menduduki tahta hakiki di tape player mobil hampir semua orang yang pernah saya temui. Ada rasa penasaran dan tidak terima di benak saya, suara lirih yang mengatakan, "Masa sih musisi ini lagu yang seru cuma ini? Lainnya nggak?"

Snob abis.

Saya juga saat sedang pasang headset suka nggak sadar kanan-kiri

Dibandingkan kompilasi yang sering membuat saya fidgety (mentally), saya lebih damai dan bahagia saat mendengarkan diskografi. Serius. Bahkan urutan track pun tidak saya utak-utik, seratus persen patuh mengikuti bagaimana si musisi mengemas karya mereka. Biasanya sih paling-paling satu album saja, tapi kalau kebetulan bisa mendengarkan musik secara terus-terus dalam waktu lama ya kadang-kadang dari rilisan terakhir hingga lagu debut terputar semua. Apalagi kalau diskografi sang musisi baru selemparan gombal. *Batuk rejan sambil melirik Lorde*

Jadi step-by-step yang biasanya saya lakukan setelah setiap kali memasukkan ear-in headset ke dalam masing-masing lubang telinga adalah sebagai berikut:

  1. Kenali mood pada waktu itu (ini penting).
  2. Musiknya mau dipakai menemani nguprek laptop atau perjalanan?
  3. Tentukan musisi mana yang sedang ingin didengarkan.
  4. Buka diskografinya, putuskan album mana yang paling sreg.
  5. Pencet play.

Ya sudah. Memang cuma demikian, kok. Nice edge dari menjadi tipe pendengar diskografi ini adalah, ada beberapa musisi yang saya sampai hapal di luar kepala semua lirik lagunya. Hapal pula lagu apa lokasinya ada di album mana dan dirilis tahun berapa. Paham betul urutan rilisnya seperti apa. Sungguh expertise sepele yang tidak kontributif terhadap perkembangan Curriculum Vitae diri sendiri.

Segelintir musisi yang paling sering saya sambangi diskografinya untuk didengarkan sehari-hari: Arashi (tidak tersedia di Spotify maupun streaming services pada umumnya), KalafinaLorde, ONE OK ROCK, Linkin Park, Imagine Dragons, Ayumi Hamasaki, Fall Out Boy, Pentatonix, daaan... Taylor Swift (yang belakangan ikut bergabung lagi ke streaming services).

Come on, people. Judge me hard.


Ada yang lebih suka menyetel diskografi juga nggak dibandingkan bikin playlist? Nggak mungkin kan saya sendirian saja? Atau jangan-jangan memang begitu? Huhuhu.

z. d. imama

Thursday, 3 August 2017

Reviewing CODE BLUE & Welcoming Its Third Season


Masyarakat Jepang sepertinya sudah lelah dengan kisah-kisah romansa. Serius. Angka kelahiran terus turun, minat menikah dan berkeluarga rendah, tapi sebagai 'propaganda', drama-drama di televisi banyak memuat kisah cinta dengan gol berupa pernikahan. Alhasil: rating yang gitu-gitu aja. Drama romansa berhasil tembus rating 10% sepertinya sudah layak dibikinin tumpengan. Barangkali kayak mahasiswa skripsian yang selalu dicekoki pertanyaan, "Kapan wisuda?" ya... lama-lama eneg.

And then this summer CODE BLUE: The Third Season comes with a bang.

This is one of the highly-anticipated drama. No joke. Season pertama CODE BLUE yang tayang perdana tahun 2008 silam berhasil mendapat rating 15.6% hanya untuk wilayah Kanto, dan saya sendiri berpendapat bahwa serial CODE BLUE secara keseluruhan jelas masuk ke jajaran medical drama terbaik yang pernah saya tonton.

Aizawa Kousaku, tokoh utama, fellow doctor.

CODE BLUE (season satu) mengisahkan tentang satu batch dokter-dokter fellow baru yang bergabung di Emergency Medical Service Shoyo University Hokubu Hospital, biasa disingkat Shohoku Hospital. Empat orang dokter fellow ini bernama Aizawa Kousaku, Shiraishi Megumi sang siswi teladan dengan kedua orang tua juga berprofesi sebagai dokter, Hiyama Mihoko yang tiap bicara ceplas-ceplos, dan dokter awkward rada-rada besar mulut bernama Fujikawa Kazuo.

Geng dokter fellow

Mereka berempat digembleng keras oleh dokter Kuroda yang merupakan ace di EMS. Shohoku Hospital sendiri memiliki program khusus bernama Doctor-Heli, yang mana tenaga medis datang ke lokasi-lokasi darurat dengan helikopter untuk mempersingkat jarak tempuh ke dan dari rumah sakit agar golden period emergency tidak terlewat. Dokter-dokter fellow semuanya berambisi bisa segera ikut naik helikopter mendampingi dokter senior ke lokasi musibah, namun ternyata standar dokter Kuroda yang strict membuat banyak hal tidak selancar angan-angan mereka.

Kalau nggak tahan dengan darah (di layar sekalipun), jangan nonton CODE BLUE sambil makan... karena beberapa adegan saat medical treatment termasuk operasi ada yang diperlihatkan. Minimal bakal menyaksikan orang-orang berlepotan darah dalam 'dosis mendekati nyata', bukan formalitas.

Helikopter yang mengangkut pasien bersiap melakukan pendaratan

Kiri ke kanan: Fujikawa, Hiyama, Aizawa, Shiraishi

CODE BLUE menyajikan professional, human drama yang ceritanya terjalin baik (maunya bilang 'sangat baik' cuma ya takut dianggap bias banget). Latar belakang masing-masing karakter diceritakan dalam setting tempat kerja tanpa kehilangan personal touch, tapi sekaligus nggak membuat kita berpikir, "Apa-apaan sih masa di tempat kerja kelakuan begini?" sama sekali. Porsi semuanya pas. Menghangatkan hati dan kadang-kadang juga merobek-robek jiwa, karena kita sebagai penonton sukses dibuat berempati pada apa yang dialami si karakter. Arc cerita dokter Kuroda (dimulai di episode 8) pun perlu diakui sebagai salah satu klimaks terbaik yang pernah ditulis untuk sebuah serial televisi.

Season kedua CODE BLUE tayang tahun 2009 dengan peraihan rating sama memuaskannya (16.6% untuk wilayah Kanto), ditambah satu episode spesial sebagai penghubung cerita season satu dan dua. Total ada 23 episode (11+1+11) dan kisah dokter-dokter muda di CODE BLUE ditutup... hingga delapan tahun berlalu, sebelum akhirnya diresureksi.

Sumpah gambar-gambar di CODE BLUE ini cakep-cakep abis.

Rushing to save a life

CODE BLUE: The Third Season dibuka dengan pemaparan mengenai kondisi EMS Shohoku Hospital saat ini. Singkat kata: carut-marut. Dokter-dokter senior mengundurkan diri karena berbagai sebab sehingga EMS kekurangan paramedis handal. Sementara itu dokter-dokter fellow yang baru hadir―yang diharapkan dapat berkontribusi―justru sama sekali tidak bisa diandalkan. Defisit tenaga paramedis ini menyebabkan beberapa pasien tidak mampu terselamatkan nyawanya karena penanganan yang kurang maksimal, dan dokter Shiraishi, sekarang berperan sebagai staff leader, merasa stres akan hal ini.

Fellow baru yang yaaa... gitu deh


Skenario CODE BLUE: The Third Season tidak dibuat oleh penulis yang sama dengan dua season pendahulunya. Jujur saja, saya agak... cemas. Beberapa episode awal yang sudah tayang sih oke dan menjanjikan, meski perkembangan kisah ke depannya masih harus diperhatikan. Sebab di season ketiga ini karakter-karakter kunci sudah 'menapaki jalan karir masing-masing', sehingga membutuhkan usaha ekstra untuk menciptakan plot yang solid dan believable, tidak lompat-lompat. Saya sih kepenginnya, CODE BLUE: The Third Season ini minimal mengimbangi intensitas cerita A LIFE, medical drama yang tayang musim dingin lalu.

Mari berharap yang terbaik.
*Fingercrossed*

Kalian pernah nonton CODE BLUE juga? Atau baru mau mencoba menyaksikan season ketiga yang tayang di channel WakuWaku Japan, lalu penasaran dengan kedua season sebelumnya? Boleh tinggalkan komentar sesuka hati, syaratnya tidak boleh kasih spoiler ya! Nanti yang sebar-sebar spoiler dimarahi dokter Aizawa.


"Doctor-Heli, engine start!"
z. d. imama

Saturday, 29 July 2017

Eating Out Experience: Osaka Ohsho


Saya nggak biasa makan di restoran. Survival code saya berkutat di warteg langganan dekat kosan dan mi instan. Pokoknya nggak Instagram-able banget. Tapi berhubung hidup susah terus-menerus juga tidak dianjurkan untuk kewarasan jiwa, sesekali saya mampir ke tempat-tempat yang terlihat menarik nan menawan tapi sekaligus tidak memiliki kesan menjebolkan keuangan. Salah satunya adalah restoran yang sepertinya belum terlalu lama nongol ini.

OSAKA OHSHO.

Restoran ini mengedepankan gyoza sebagai menu spesialis mereka, dan ternyata jika dicek ke situs resminya, Osaka Ohsho telah berdiri sejak tahun 1969. Menu-menu yang ditawarkan merupakan perpaduan antara kuliner Cina dan Jepang. Popularitasnya terus berkembang hingga saat ini, membuat Osaka Ohsho memiliki cabang hingga lebih dari 300 outlets yang tersebar di seluruh dunia.

Ada replika menu yang dipajang di depan restoran

Ketika berjalan mendekati Osaka Ohsho, saya dan partner makan malam itu langsung disambut ramah oleh dua orang pramusaji yang 'berjaga' di depan, tepatnya di samping buku menu yang dipajang. Setelah duduk dan diberikan buku menu... ternyata saya hampir menangis bahagia karena harga masakan-masakan yang dijual di Osaka Ohsho relatif sangat bersahabat! Mending makan di sini ketimbang di Hoba-Hoba Kento, seriusan. Apalagi mereka menawarkan menu set yang berisi nasi, lauk, sup, serta side dish berupa signature gyoza. Minuman dihargai mulai dari Rp15,000 untuk teh dan Rp30,000 untuk yang lain-lain. Free refill hanya hot ocha, ya.

Osaka Ohsho juga menyediakan kuliner haram. Jadi bagi yang kepengin makan menu babi-babian (pork gyoza, misalnya) atau ngebir, bisa banget lah ke tempat ini. Nggak mau mampir ke restoran yang juga menjual makanan haram? Nggak masalah. Bisa jajan ke restoran lainnya. Jangan menyusahkan diri sendiri, hehehe...



Nuansa Osaka Ohsho disetel khas family restaurant sebagaimana biasanya: kasual dan tidak memiliki 'vibe' khusus ala tempat makan kekinian yang menjual ambience. Pada masing-masing meja sudah disediakan tisu, sepasang sumpit dan sendok-garpu (bagi yang tidak bisa menggunakan sumpit bisa langsung pakai sendok-garpu tanpa harus minta pramusaji).

Malam itu saya memesan menu set tenshinhan seharga Rp85,000―tidak termasuk tagihan PB1―yang isinya terdiri dari satu porsi tenshinhan, sup telur, gyoza (saya pesan chicken gyoza), serta chicken karaage. Tenshinhan itu sesungguhnya nama makanan ya, yang lalu oleh Toriyama Akira dijadikan nama salah satu karakter Dragon Ball. Bukan sebaliknya. #InfoLayananMasyarakat #FaktanyaAdalah

And when my order came it looked like this:

Banyak dan besar!

Padahal saya tadinya cuma 'laper aja' saat memutuskan datang ke Osaka Ohsho. Menatap hidangan-hidangan yang tersaji di depan mata, status perut langsung berubah menjadi 'laper banget anjir'. Bicara rasa, menurut saya sih enak dan memuaskan. Sup telur di sini berfungsi sebagai penetralisir, berhubung orang Jepang cenderung tidak suka kalau rasa makanan yang satu tercampur dengan makanan lain, sehingga saat diseruput memang cukup hambar di lidah.

Partner makan saya memesan menu set lain (saya tidak ingat apa namanya, yang jelas kuliner haram). Saat dijejerkan dengan pesanan saya tampilannya seperti ini:

Nggak dapat karaage.

Minumnya? Sama-sama beli lychee soda. Tapi kelupaan tidak diambil fotonya. Padahal enak dan tampilannya cukup menarik, diberi garnish daun mint pula. Buah lecinya pun masih utuh, tidak dipotong-potong demi menyamarkan kuantitas sesungguhnya (kayak yang suka dilakukan itu tuh... tempat yang sono).

Selesai makan dan nampan diangkat, seorang pramusaji mendekat untuk menawarkan hidangan penutup. Osaka Ohsho menyajikan es krim dalam beberapa rasa, namun menu dessert andalan mereka adalah sweet gyoza. Jatuhnya mungkin kayak semacam pastel mini ya? Pilihan isi ada tiga jenis, tapi yang cukup menarik di telinga saya adalah banana-peanut butter dan fermented cassava (kata sang pramusaji, varian terakhir ini adalah favorit customer).

FERMENTED... CASSAVA?

Sejenak saya bertukar pandangan dengan sang partner makan. Otak bekerja cepat, menebak-nebak. Fermented cassava ini 'sebutan normal'-nya apaan sih?? Lalu bagai ada lampu dinyalakan di otak, saya pun menyadari bahwa ternyata itu maksudnya adalah... TAPE SINGKONG.

Sweet gyoza varian banana-peanut butter

Pulang dari Osaka Ohsho rasanya kenyang banget. Puas. Happy tummy, delightful tastebuds, and not-so-sad purse are such a good combination. 8.5/10 will definitely come again. Bikin kepengin mencoba masakan-masakan lainnya. Lokasi Osaka Ohsho ada di Ground Floor Plaza Senayan, Jakarta, berseberangan dengan toko buku Periplus. Menerima take away, tapi sementara ini (berhubung masih tergolong baru) belum tersedia di Go-Food maupun GrabFood. Review-review dari pengunjung lain bisa dibaca di halaman Zomato, ya.

Kelihatan kan Periplus-nya?

Siapa yang sudah pernah mencoba makan di Osaka Ohsho? Atau punya rekomendasi restoran enak dan tidak terlalu mahal? Atau malah punya warteg langganan yang masakannya maknyus? Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar, lho! Jangan malu-malu...

z. d. imama



Thursday, 27 July 2017

The Random Postcard Game


Belakangan ini saya sedang iseng-iseng mengirim kartu pos kepada orang lain, baik yang sudah pernah dikenal sebelumnya maupun yang belum saya kenal secara pribadi. Kurang kerjaan amat, ya? Hahaha. Aktivitas tersebut bermula dari akhir bulan Juni lalu, saat saya bersih-bersih kamar dan menemukan setumpuk kartupos kosong yang kemungkinan dibeli dari SCOOP Ideas (toko laknat berisi barang-barang superlucu tapi sebagian besar nggak jelas gunanya apa itu lho).

Daripada menganggur di laci tanpa dipergunakan, akhirnya saya mengirimkan kartupos-kartupos itu secara bertahap kepada sejumlah orang. Iya, bertahap. Pelan-pelan ngirimnya. Perangko juga kalau belinya sekaligus banyak jadi terasa mahal kan... sehingga harus dicicil sedikit demi sedikit sampai habis.

Kloter pertama saya kirimkan sekitar awal bulan Juli lalu. Alamat tujuan Jakarta saya berikan perangko Rp3000, kemudian sisanya saya sematkan perangko Rp4000. Mungkin karena masih suasana Lebaran ya, jadi kartupos-kartupos itu sampainya cukup lama (berdasarkan keterangan mereka yang saya kirimi).

Kartupos di atas dikabarkan @snydez tiba tanggal 19 Juli lalu

Tujuan Jabodetabek, dikabarkan sampai 22 Juli oleh @minumtehtarik.

Ke pulau Sumatera (kalau tidak salah ingat), tiba tanggal 25 Juli, untuk @hersyuuu.

Agak lucu ya? Masa yang beda pulau dan region Jabodetabek sampainya cuma beda tipis. Tapi syukurlah kartupos-kartupos saya bisa tiba dengan selamat. Minimal tiga dari tujuh yang dikirimkan sudah ada kabar. Empat sisanya... saya pasrahkan saja kepada Yang Maha Kuasa.

(TOLONG DONG SAYA DIKABARI JIKA SUDAH DITERIMA KARENA HATI INI DEG-DEGAN JUGA KALAU DIANGGURIN KELAMAAN.)

Minggu lalu saya mengeposkan tujuh lembar kartupos tahap kedua. Kali ini tujuan pengirimannya lebih diverse dibandingkan kloter sebelumnya. Justru tidak ada yang dikirimkan ke sesama DKI Jakarta. Semoga saja semuanya bisa terkirim dengan utuh dan selamat sentosa. Amin. *agak cemas*


Ngomong-ngomong, nggak ada nih yang bersedia mengirimkan kartupos juga untuk saya? Saya mau banget menerimanya, lho! Tolong kirimi saya juga dong... *pasang tampang memelas.*

z. d. imama

Friday, 21 July 2017

First experience using PopBox


Ada yang sudah pernah dengar soal PopBox?

Hingga beberapa waktu lalu―tepatnya sampai saya lebih sering aktif berbelanja buku lewat situs Gramedia (yang postingannya juga ada di sini)―saya sama sekali asing dengan PopBox, baik nama maupun kegunaannya. Ketika "PopBox" muncul pada opsi pengiriman barang, rasa penasaran saya pun tergelitik dan akhirnya memutuskan mencoba menggunakan servis PopBox.

Ngomong-ngomong, saya nggak dibayar siapa pun untuk membuat tulisan ini.
Sedih, bos.

Jadi pada hakikatnya, PopBox adalah jasa layanan 'loker penitipan barang' atau 'kotak surat berbayar'. Barang-barang yang dikirimkan kepada kita baik itu dari online shop, laundry service, atau vendor-vendor lain yang bekerja sama dengan PopBox dapat diletakkan di dalam loker-loker ber-password yang mana bisa kita ambil sewaktu-waktu. Persebaran lokernya terbilang cukup banyak (sejauh ini tersedia di Jabodetabek dan beberapa kota lain yang dapat dilihat di situsnya), sehingga kita bisa memilih lokasi terdekat, atau tempat-tempat yang sering kita lewati. Barang pesanan sampai ke tangan kita tanpa harus menuliskan data pribadi seperti alamat tempat tinggal atau kantor! Tidak perlu pula mencemaskan kurir datang saat rumah kosong.

Penampakan loker PopBox. Cukup mentereng.

Bagian yang saya hitamkan itu berisi keterangan cabang loker PopBox. Tidak saya ungkap karena kebetulan saya memang memotret loker terdekat dengan 'daerah peredaran diri'. Jika layar kecil di sisi kiri itu disentuh, maka tampilannya akan berubah menjadi pilihan bahasa, seperti di bawah ini:

Foreigners-friendly.

Di situ juga ditunjukkan keterangan ada berapa loker yang tersedia dalam ukuran apa. Jadi jika ingin menyimpan barang yang relatif kecil (contoh: peralatan kosmetik), dapat diletakkan ke dalam loker XS agar tidak banyak ruangan terbuang sia-sia.

Sesudah memilih bahasa yang sesuai kemauan dan kemampuan kita, layar akan berpindah ke menu utama yang menampilkan aneka layanan dari PopBox. Selain servis andalannya sebagai drop box, ternyata PopBox juga bisa digunakan untuk melakukan pembayaran dengan e-money.

Ada FAQ juga tapi tidak saya coba tekan.

Saya kan memang bermaksud mengambil barang belanjaan dari Gramedia, maka saya pencet tombol "Mengambil Barang". Tahap selanjutnya adalah men-input password yang sebelumnya telah otomatis terkirim ke nomor ponsel (dalam bentuk SMS, bukan mendadak WhatsApp kayak abang-abang ojek online) kita ketika barang yang dipesan sampai ke PopBox tujuan.

Tombolnya besar-besar. Suka, deh.

Setelah kita menekan "OK", maka loker yang berisi barang milik kita akan terbuka secara otomatis. Tampilan layar akan menunjukkan nomor loker kita dan batas waktu pengambilan barang. Seru banget mendengar bunyi 'ceklek' ketika salah satu kunci loker dinonaktifkan dan katupnya bergerak sendiri. Bahkan saya (yang memang pada dasarnya gadis dusun) tidak bisa menahan diri untuk tidak cengar-cengir sewaktu menarik keluar belanjaan dari PopBox.

Agak nge-blur gambarnya. Maafkan saya huhuhu..

Come to me, my baby~

Biaya shipping dan handling PopBox terhitung sangat terjangkau. Saya kurang tahu apakah biaya berubah-ubah seiring berat barang yang dikirimkan, tapi ketika saya membeli buku seberat dua kilogram di Gramedia, tagihan pengiriman dengan PopBox hanya sebanyak Rp8,000. Padahal kalau dengan jasa kurir biasa (oke, pilihan shipment lain di situs Gramedia cuma ada JNE) akan dua kali lipatnya. Menurut saya, PopBox mampu menjadi alternatif yang sangat menarik untuk perkara kirim-mengirim barang.

Daftar vendor dan merchant yang bekerja sama dengan PopBox bisa dicek di situs mereka yah. Link-nya sudah saya sertakan di awal tulisan ini. Selain Gramedia online, ada pula PerfectBeauty dan sejumlah toko-toko online lain kok. Selamat mencoba menggunakan layanan PopBox! Kayaknya saya ketagihan sih...

z. d. imama

Thursday, 6 July 2017

Online Bookstore for the Rescue


Saya orangnya tidak mudah tergoda belanja-belanja pakaian. Begitu pula sepatu (sampai-sampai sepatu lari yang sudah berbulan-bulan rusak dan jebol tidak kunjung dibelikan penggantinya). Saya gampang terhasut kalau diajak ke toko buku, atau melihat-lihat seprai. Agak nggak nyambung, memang.

Beberapa waktu lalu saya iseng mampir ke Gramedia (karena kebetulan sedang ada perlu di gedung yang sama) dan terkaget-kaget karena harga komik Jepang edisi Indonesia sekarang sudah Rp25,000 per buah. Wah ngajak berantem, nih. Saya belum sembuh dari syok sejak harganya berubah dari Rp20,000 ke Rp22,500 lho. Apalagi jika mengingat bahwa semenjak komik di Indonesia harganya masih Rp5,500 tuh di Jepang sudah sekitar Rp40,000-an. Sekarang? Masih di range Rp40,000 sampai Rp50,000... semacam kayak nggak kenal inflasi.

Bete, kan. 

Harga komik-komik kesayangan saya yang makin merangkak, ditambah dengan ketidakpastian tersedianya stok sebuah judul di toko buku satu dengan lainnya membuat saya (yang sudah malesan ini) jadi semakin enggan jalan-jalan keluar hanya untuk mencari buku yang ingin dibeli. Ya sudah. Alhasil saya mulai beralih ke Gramedia versi online, yakni gramedia.com, yang Welcome page-nya bisa dilihat dari gambar di atas, atau di bawah ini.

Jika butuh asupan agama bisa beli kitab suci juga

"Eh, ini postingan berbayar ya?" bisik-bisik pengunjung blog dengan curiga.
Nggak, lah. Mana ada yang berkenan membayar saya selain kantor yang merupakan sumber tumpuan hidup. Hiks. Kenyataan pahit.
Saya terus terang belum pernah menggunakan jasa toko buku online selain Gramedia, jadi sebetulnya saya tidak membisa membuat perbandingan dengan situs toko buku serupa. Tetapi sejauh pengalaman pribadi, yang paling menjadi nilai plus dari situs ini (selain diskon musiman dan kecil-kecilan) adalah buku yang kita pesan bisa diambilkan dari gudang berbagai Gramedia berbeda!

Seriusan.

Tempo hari saat saya beli online satu judul serial yang total terdiri delapan jilid, buku-buku saya berdatangan dari beberapa gudang cabang-cabang toko buku Gramedia. Jadi kalau ternyata jilid pertama tidak ada di cabang A, misalnya, maka akan dikirimkan dari cabang B. Pokoknya pesanan kita terpenuhi lengkap. Pelanggan terima beres.

Kebaca kan tulisannya?

Kedelapan buku yang saya pesan diambilkan dari Gramedia Kelapa Gading, Gramedia Distribution Center Cakung, Gramedia Emporium Mall Pluit, dan Gramedia Grand Indonesia. Coba bayangkan jika saya memutuskan berburu secara... manual? Gempor, mak. Keburu dekil gara-gara keliling Jakarta. Belum lagi ongkos transportasi berpindah-pindah lokasi. Tambah ongkos beli es teh karena kehausan di jalan, blah blah blah. Kalau begini kan cukup membayar ongkos kirim dan handling, barang sudah dicarikan lalu dikirimkan.

Ada yang punya rekomendasi toko buku online lain?
Silakan tulis dan berbagi di kolom komentar yah.

z. d. imama

Friday, 30 June 2017

What I miss from hometown


Saya ini gadis dusun.

Dan sepertinya nyaris semua orang yang pernah berbicara langsung dengan saya menyetujui hal ini. Saya ndeso dan medhok, dan tidak ragu mengakui bahwa nyatanya memang anak kampung yang merantau ke ibukota. Maka, salah satu kegiatan khas anak rantau―yang belum lama ini dilakukan berbondong-bondong oleh warga Jakarta dan kota-kota besar lainnya―adalah pulang kampung. Mudik.

Sebagai golongan manusia light traveler yang paling enggan membawa banyak barang saat bepergian jauh, packing tidak pernah menjadi persoalan. Justru perkara terbesar adalah waktu tempuh untuk mudik. Berhubung gembel dan hanya mampu beli tiket kereta ekonomi, saya mau tidak mau harus bersahabat dengan pegal-pegal akibat duduk di kursi selama kurang lebih sepuluh jam. Makanya... mengingat itu, kadang jadi agak malas untuk pulang kampung.

Tapi tentu saja ada beberapa hal-hal yang menjadi motivasi untuk kembali ke kota tempat kelahiran, yang akan saya sebutkan di bawah ini. Perlu diingat bahwa segala yang tertera nanti sifatnya sangat subjektif. Cuma bagi saya saja. Oh ya, dan saya tidak akan menuliskan "Bertemu keluarga" atau sejenisnya. Jangan anggap saya anak durhaka, oke? Sebab menurut saya, keinginan berjumpa keluarga bukan termasuk motivasi pulang kampung lagi. Itu sih, tujuannya.

Jadi, apa yang saya rindukan saat mudik?

1. Tempat tidur sendiri.

Bukan kamar saya.

Tempat tidur saya di kampung ukurannya jauh lebih luas dibandingkan yang di kos. Sehingga setiap kali pulang ke rumah, rasanya seperti upgrade dari kelas ekonomi ke... yah, eksekutif. Mau guling-guling kayak apa pun aman. Selain itu, barangkali ada faktor sentimental tersendiri yang membuat saya berpikir bahwa kasur yang sudah saya tiduri sejak pasang pembalut saja belum bisa bener ini lebih terasa nyaman dibandingkan kasur kosan di perantauan. Sense of familiarity, kali yah?

2. Koleksi buku-buku lama.


Buku-buku saya di rumah cukup banyak, dan terus terang nilai nostalgianya juga besar. Misalnya, komik Detektif Conan yang edisi kaver klasik (warna dasar putih) dari volume 1-40, Card Captor Sakura, Detektif School Q, Animorphs, Harry Potter, pokoknya segala macam buku baik novel maupun komik yang terbit hingga tahun 2012. Membaca-baca ulang buku-buku lama milik sendiri merupakan sebuah aktivitas langganan yang nyaris tidak pernah saya lewatkan setiap kali pulang (makanya daftar buku bacaan jarang bertambah, habis kerjaannya re-reading melulu). Beberapa judul komik yang saya taruh di postingan rekomendasi shoujo manga favorit juga ada di koleksi pribadi karena sudah pernah diterbitkan di Indonesia, dan pasti jadi sasaran utama untuk dibuka-buka lagi.

3. Makanan khas kampung halaman.

Salah satu makanan yang sampai sekarang nggak ketemu di Jakarta: Timlo

Makanan ala kota Solo ya memang paling bener belinya di kota Solo. Udah. Titik. Beberapa kali mencoba mampir di sejumlah warung makan atau restoran yang menjual menu dengan embel-embel kota Solo... tapi entah kenapa rasanya tetap salah, atau justru makanan yang saya cari tidak tersedia. Worst case scenario: ada yang jual, tapi rasanya tidak enak, dan harganya sudah berkali-kali lipat lebih mahal. Mendingan nunggu kesempatan pulang kampung deh...

4. Suasana jalanan yang tidak 'buas'.

Becak ini transportasi paling nggak taat sama rambu lalu lintas.

Percaya, deh. Kalau ada warga kota Solo bilang, "Ah Solo sekarang juga macet!" tapi yang bersangkutan belum pernah bepergian ke Jakarta, atau New Delhi, apalagi New York, nggak usah terlalu meyakini kata-katanya. Apa yang dibilang 'macet' bagi orang yang mendekam di kota Solo adalah "Wah jalanannya agak rame yah" bagi warga Jakarta. Mentok-mentok yaa... 'padat merayap', lah. Perjalanan mengendarai motor dari rumah saya ke SMA, yang jaraknya kurang lebih sejauh 10 KM, bisa ditempuh sekitar 10-15 menit saja tanpa harus melanggar lampu lalu lintas atau naik ke trotoar. Kurang chill apa, coba?


Apa yang bikin kangen dari kampung halaman kalian?

z. d. imama

Sunday, 25 June 2017

How to Respond to Questions from Relatives on Eid


Selamat Hari Raya Idulfitri, teman-teman!

Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca isi dari blog saya yang kebanyakan nggak ada pentingnya ini. Hahaha. Berhubung sekarang hari Lebaran (dan saya belum mudik sehingga nganggur di kos), saya akan mencoba memberikan tips-tips sederhana mengenai cara-cara mengatasi pertanyaan sekaligus komentar―yang berbau ikut campur dan kadang terasa menyudutkan―dari saudara-saudara jauh saat acara kumpul keluarga besar ketika hari Idulfitri.

Lebaran, dengan budaya mudiknya, merupakan ajang bagi anggota extended family yang biasanya tidak saling bertemu menjadi berinteraksi dan saling kenal. Pertemuannya pun dalam setahun hanya bisa dihitung jari. Kalau bukan di momen Idulfitri yaa... Natal. Atau kegiatan lain yang melibatkan banyak orang (misalnya arisan keluarga besar). Tapi masalahnya, saudara-saudara jauh bermodal kepretan DNA dari eyang/leluhur yang mendadak mendekat ini sering―meskipun tidak selalu―tidak tahu diri sadar bahwa mereka jarang sekali berhubungan dengan kita dan hampir tidak punya andil besar pada suka-duka hidup kita. Banyak di antara mereka yang memilih menanyakan atau mengomentari hal-hal yang termasuk pilihan pribadi, prinsip, bahkan kadang-kadang memerintahkan sesuatu.

Hal-hal yang paling sering terkena serangan komentar dan pertanyaan kerabat jauh ketika Idulfitri kurang lebih sebagaimana tertera di bawah ini:

  • "Kapan lulus?" dan segala variasinya, khusus bagi mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi.
  • "Udah ada pendamping wisuda belum?" sebagai variasi dari "Masih jomblo atau udah punya pacar?" untuk mahasiswa-mahasiswa yang sudah lulus sidang skripsi tapi belum upacara wisuda.
  • "Lho, belum kerja?" yang biasanya ditujukan kepada lulusan universitas atau akademi yang masih bergulat mencari pekerjaan, atau yang memang memutuskan untuk mencari nafkah dengan cara non-kantoran (misalnya berjualan barang secara online).
  • "Kapan nikah?" dan segala repackaged version-nya, biasanya sudah mulai dilontarkan ke anak-anak perempuan yang sudah memasuki usia 20 tahun ke atas (kalau laki-laki saya nggak tahu karena nggak ngalamin), cenderung makin gencar dan makin sadis seiring bertambahnya waktu.
  • "Kapan punya momongan?" yang kerap digunakan untuk mencecar pasangan-pasangan yang sudah menikah tapi belum punya anak, memang menunda punya anak, atau memilih untuk tidak punya anak. 
  • "Kapan nambah?" ini bukan tentang nambah makan, tetapi menambah jumlah anak. Ya tentu saja sasarannya adalah pasangan suami-istri yang anaknya hanya satu. 
  • "Mainannya lucu, buat anakku satu ya?" adalah pertanyaan sekaligus permintaan ngelunjak yang tidak jarang dicetuskan oleh kerabat jauh kepada kita kalau mengoleksi barang-barang seperti Funko, Gunpla, action figure, atau sejenisnya.
Jika ada contoh pertanyaan lain, silakan ditulis di kolom komentar sebagai submission!

Inner me: "LEAVE. ME. ALONE!!"

Bagaimana cara untuk men-tackle pertanyaan-pertanyaan di atas? Ada beberapa alternatif yang bisa dipilih, tetapi efektivitas setiap opsi tidak bisa ditentukan karena yaaah... ngefek-nggaknya ke setiap orang kan beda-beda. Silakan putuskan sendiri siasat mana yang akan kalian gunakan ya!

- The "Senyumin Aja" Strategy

Nggak usah dijawab. Nggak usah ngomong apa-apa. Pokoknya senyum! Jika memungkinkan, saat kalian tersenyum manis kepada pihak penanya, lakukan sambil pindah dari posisi semula ke tempat lain yang jauh dari jangkauan suara dan tangannya. Sehingga sikap ini merupakan silent version dari, "No, I am not going to answer this. Bye."

- The "Jawab Asal-Asalan" Strategy

Ingin meladeni? Ingin menjawab? Tapi juga ingin sedikit rese? Bisa pilih metode menjawab ngasal. Sewaktu ditanya, "Kapan kawin?" misalnya, kalian bisa jawab "Minggu depan kali ya, mumpung bulan Ramadan sudah selesai". Atau justru mendapat pertanyaan, "Pacar kamu mana kok nggak pernah dikenalin"? Tenang. Coba bilang, "Lho, orangnya ada di sini kok," dan biarkan mereka menebak-nebak siapa di antara keluarga besar yang diam-diam kalian kencani (padahal fiktif).

- The "Serangan Balasan!" Strategy

Jika kalian termasuk orang-orang yang paling tidak bisa merasa dipojokkan, ditindas, atau dicampuri urusan hidupnya, tampaknya siasat serangan balik ini cocok untuk kalian. GO FULL OFFENSIVE, PALS! Sebagai contoh, ketika kalian mendapat pertanyaan, "Kamu kok nggak lulus-lulus kuliah?" dari saudara yang kebetulan punya anak dengan usia di bawah kalian, bisa membalas dengan, "Ya minimal saya keterima di kampus bagus, kalau (masukkan nama anak si penanya) kan belum tentu". Kalian dapat komentar, "Nggak usah terlalu pilih-pilih jodoh"? Santai. Bisa dijawab, "Kalau saya nggak milih-milih, nanti kehidupan rumah tangga saya susah kayak Om/Tante". Koleksi mainan kalian diminta satu oleh kerabat dengan dalih untuk anaknya? Jangan panik. Bisa katakan, "Miskin ya sampai nggak sanggup belikan mainan untuk anak sendiri? Kebanyakan anak?" sebagai serangan balasan. Tapi harus diingat, strategi ini juga sangat efektif untuk membuat kalian jadi the black sheep of the family.

- The "Pura-Pura Sakit Tenggorokan" Strategy

Ini adalah siasat melarikan diri, alias cari aman. Kenakan masker sepanjang momen Lebaran. Berpura-puralah sedang sakit tenggorokan dan nggak sanggup ngobrol dengan orang-orang, niscaya kalian tidak akan harus repot-repot memberikan respon terhadap komentar dan pertanyaan mengganggu, bahkan tidak perlu turut berbasa-basi dengan semua orang. Cukup berikan sinyal yang menandakan bahwa kalian tidak bisa bicara, habis perkara!

Masker debu ya, bukan masker perawatan wajah...

Sudah memutuskan siasat mana yang akan diterapkan untuk Lebaran kali ini? Sekali lagi, selamat Hari Raya Idulfitri untuk kalian! Lebaran nggak Lebaran, yang penting ikut liburan!

z. d. imama

Monday, 19 June 2017

Japan Fest 101: Songs on Stage


Saya sudah cukup jelas menyatakan beberapa kali di blog ini bahwa saya adalah #BudakYapan, yang terbilang cukup akrab dengan produk-produk budaya dan kapitalisme mereka. Sebelum menjadi gadis rantau di area Jabodetabek, saya merupakan warga kota eks-karesidenan Surakarta yang relatif jauh dari hingar-bingar. Kehidupan remaja saya dihabiskan dengan jadi server tanpa upah di laboratorium komputer sekolah (yang selepas jam pelajaran beralih fungsi sebagai warnet), bolak-balik ke tempat persewaan buku dan video, ke bioskop setiap hari Senin karena ada promo Rp15,000, dan... mendatangi festival budaya Jepang yang diadakan SMA-SMA (serta kampus) lokal di kampung halaman.

Jika tidak salah ingat, saya mulai berkenalan dengan festival Jepang anak sekolah sekitar tahun 2007. Hingga tiba hari di mana saya berangkat exchange (dan kemudian disusul kuliah di luar kota), saya cukup sering menghadiri acara-acara serupa untuk menyadari sejumlah hal-hal tipikal, salah satunya lagu-lagu yang sering terdengar di sana.

Hence, I present:

#JapanFest101: Songs Performed on Stage Edition

Circa 2007-2012 untuk area Surakarta dan sekitarnya.

Guest band di festival Jepang SMA Negeri 1 Surakarta, "Sannin Party" ke-9

Acara festival Jepang sudah pasti diikuti dengan kompetisi band performance dan sejumlah bintang tamu untuk meramaikan acara. Entah kenapa, baik band yang mengikuti lomba maupun undangan, tampaknya punya beberapa lagu favorit yang hampir pasti dimainkan di panggung. Mungkin karena lebih gampang kali yah? Atau instrumen yang digunakan nggak butuh terlalu ribet? Tidak jarang dalam satu acara, ada lagu yang dibawakan hingga dua atau tiga kali oleh penampil berbeda. Sampai-sampai rasanya kalau lagu-lagu tersebut belum dimainkan, acara festivalnya kurang afdol. Tidak mabrur.

Berikut adalah beberapa lagu yang, hingga detik ini, ketika mendengar intro-nya saja saya sudah timbul hasrat mengangkat kedua lengan lalu jejingkrakan sendiri.

1. L'Arc~en~Ciel - Stay Away

(Alternative: Blurry Eyes, Ready Steady Go)
Pokoknya di rentang waktu tahun 2007-2012 tuh kalau sampai ada festival Jepang yang tidak melibatkan tiga lagu Laruku tersebut, bisa dibilang acaranya melempem. Apalah event perwibuan tanpa band dengan vokalis yang berambisi (dan berupaya semampunya) untuk meniru-niru teknik vokal Om Hyde?

Promotional video untuk Stay Away.

(*P.S: klik masing-masing judul untuk menonton video performance aslinya via YouTube jika kalian lupa―atau nggak tahu, tapi masa sih?―lagu-lagu ini tuh yang mana.)

2. Saint Seiya OP - Pegasus Fantasy

Sumpah saya baru tahu beberapa tahun belakangan bahwa original artist lagu ini adalah sebuah band metal bernama MAKE-UP. Sebelum itu ya hanya mengidentifikasi sebagai "Oh ini lagu opening anime Saint Seiya". Udah. So much for #BudakYapan, huh? Tapi terus terang, Pegasus Fantasy memang sangat seru jika dibawakan karena crowd pasti beramai-ramai ikut teriak, "Saint Seiya!!" saat bagian chorus.

Saya nulis postingan ini saja sudah kepengin headbang...

3. Asian Kung-fu Generations - Haruka Kanata

Of course. Haruka Kanata ini terbilang satu soundtrack Naruto yang paling kerap ditampilkan saat festival budaya Jepang anak sekolahan. Memang cukup 'meramaikan' dan catchy, ditambah lagi agak teriak-teriak jadi sekalipun si vokalis nyanyinya rada fales bisa disamarkan, sehingga wajarlah lagu ini dimainkan di sana-sini. Seingat saya, majalah khusus anime dan manga "Animonster" juga pernah memuat lirik lagu Haruka Kanata lengkap beserta terjemahannya. 

Pas opening-nya masih begini, Sasuke belum jadi cowok yang gampang dihasut

4. Do As Infinity - Fukai Mori

Vokalis cewek di band spesialis festival Jepang hampir bisa dipastikan pernah membawakan lagu ini. Bahkan beberapa pekan lalu, saat saya menghadiri Ennichisai 2017 di Blok M, masih ada performer yang memainkan Fukai Mori. Buset. Lagu abadi. Barangkali karena melodi lagunya tidak terlalu ribet jadi mudah dinyanyikan? Bisa jadi. Tapi sebagai pengunjung, saya pun cukup menyukai Fukai Mori karena bisa menonton sambil berdiri tenang tanpa perlu terbawa suasana yang menuntut lonjak-lonjak dan jejingkrakan.

Fukai Mori sempat jadi lagu ending untuk anime Inu Yasha

5. Wada Kouji - Butter-Fly

Opening Digimon Adventure, salah satu serial anime pertama yang saya kenal (dan sayangi bahkan sampai hari ini). Tipe lagu yang setiap kali didengarkan langsung jadi bersemangat. Saya memang punya personal attachment tersendiri dengan serial Digimon dan lagu-lagu soundtrack-nya. Sumpah, sedih banget rasanya ketika Wada Kouji, original artist dari lagu ini, dikabarkan meninggal dunia bulan April 2016 lalu karena sakit kanker. Nyesek asli. 

SO. MUCH. FEELS.

Satu hal yang paling bikin saya lumayan gemas adalah, kadang-kadang vokalis band yang sedang tampil lupa lirik lagunya (mungkin karena beda bahasa jadi sulit dihapalkan dan kebetulan darah wibu dalam diri sang vokalis kurang kental), lalu dengan sengaja mengarang bunyi-bunyian asal. Berharap nggak ada yang menyadari kali yah... Mungkin disangkanya, "Ah bahasa Jepang ini, salah ngomong juga nggak bakalan pada ngerti."

Padahal sebenernya penonton juga nggak sebuta itu lho...
 
Nah. Apa kalian punya contoh lagu-lagu lain yang hampir selalu bisa didengar di panggung festival budaya Jepang? Kata salah seorang teman saya sih, sekarang lagu-lagu ONE OK ROCK juga sudah mulai merajalela sebagaimana L'Arc~en~Ciel beberapa tahun silam. Saya tidak bisa mengecek kebenarannya karena sudah tak seaktif dulu lagi dalam menyambangi festival-festival, tapi kalau menurut dugaan saya yaa... lagu ONE OK ROCK yang sering dimainkan paling-paling Heartache, Wherever you are, atau The Beginning. Starter pack aja.

*Kabur sebelum dilindes pakai truk semen.*

z. d. imama