Friday, 10 November 2017

"Rikuou" review: hardwork and (over)work


"Review melulu anjer. Katanya whiny blogger?" Demikian pikir saya saat membuat tulisan ini. Tapi bisa apa? Hasrat untuk nyerocos tentang film dan serial yang sedang ditonton membuncah tanpa terkendali, padahal channel yang tersedia cuma blog ini. Ya sudah. Tampaknya apabila mempertimbangkan jumlah film dan serial Yapan di blog pribadi, saya lama-lama bisa dapat sertifikasi sendiri. Wibu certified, gitu.

Kali ini saya mau bahas salah satu drama yang sedang tayang: Rikuou. Penulisan huruf kanji judul drama tersebut berarti "The King of Land". Diadaptasi dari novel tulisan seorang mantan pegawai bank, Ikeido Jun, Rikuou terbilang lumayan diantisipasi. Barangkali sama seperti waktu warga Indonesia menantikan adaptasi novel Supernova karya Dee Lestari ke layar lebar, meski ternyata filmnya mak plekethis koyo ngono thok. Sebagai bekas pengabdi korporat (I deliberately avoid using that 'budak' word; nanti kena omel netizen), novel-novel Ikeido Jun banyak berkutat tentang korporasi dan human dynamics di sana. Salah satu karya yang terbilang sangat populer dan sudah pernah diangkat ke layar televisi adalah Hanzawa Naoki (2013), tentang seorang pegawai bank raksasa yang kena fitnah, lalu berupaya membersihkan namanya. Episode terakhir Hanzawa Naoki, saking ngehits, meraih rating lebih dari 40% (area Kanto saja). Di zaman orang-orang mulai asyik YouTube-an, streaming, dan segala aktivitas dunia maya, bisa dapat viewership di atas 40% tuh semacam legenda.

Jadi, Rikuou bagaimana?


Premis Rikuou tidak aneh-aneh. Tema cerita adalah bagaimana sebuah perusahaan berkompetisi di pasar lewat perjuangan, kerja keras, dan passion. Tersebutlah Miyazawa Koichi (dimainkan aktor watak kawakan Yakusho Kouji), presiden direktur sebuah perusahaan pembuat tabi, alas kaki tradisional Jepang. Miyazawa adalah generasi keempat, dan dia menyaksikan betapa perusahaan keluarga yang diwariskan turun-temurun itu makin menyusut skala produksinya karena perkembangan zaman. Demand untuk tabi tidak lagi sebanyak dulu. Perusahaan-perusahaan sejenis yang pernah menjadi rival mereka pun kolaps satu per satu. Jumlah pegawai perusahaan Miyazawa yang sempat ratusan, kini tinggal 20 orang saja. Kebanyakan adalah ibu-ibu yang sudah cukup berumur. Anak sulung laki-laki Miyazawa, Daichi (diperankan Yamazaki Kento), yang direkrut bantu-bantu di perusahaan, mulai diam-diam ikut wawancara kerja di sana-sini. They know the company won't last long if this continues.

Pertemuan dan diskusi Miyazawa dengan pegawai bank bernama Sakamoto Taro (Kazama Shunsuke) memicu lahirnya pemikiran: gimana kalau launching produk baru yang masih selaras dengan tabi, tapi bisa dipakai semua orang di masa kini? Gimana kalau bikin running shoes? Okay, running shoes it is.


Bapak dan anak jalan-jalan ke acara maraton untuk survei.

Enter Mogi Hiroto (yang diperankan kecengan bertampang a la mas-mas Karang Taruna saya, the goodest boy of the good boysTakeuchi Ryoma) to the picture. Ceritanya, Mogi adalah atlet pelari yang oleh perusahaan sponsornya cenderung taken for granted dan underappreciated. Pokoknya harus mengeluarkan hasil, nggak peduli gimana kesehatan dan kondisi kakinya. Sesama atlet pelari juga sering ngrasani dan ngegosipin Mogi yang emang ambisius banget latihannya gara-gara ditekan pihak sponsor. Kasihan, lah. Bisa dibilang satu-satunya pihak baik hati yang masih peduli well-being Mogi hanyalah sang pelatih, yang―tentu saja―tak berkutik di hadapan sponsor yang selalu menolak mendengarkan kata-katanya.

Can you guess what happen next? Yak, benar sekali. Kohazeya, perusahaan Miyazawa, menawarkan sampel sepatu lari produksi mereka kepada Mogi Hiroto untuk dipakai latihan. Lantas bagaimana penilaian Mogi sebagai atlet terhadap sepatu baru itu? Kira-kira berhasil nggak, Presiden Direktur Miyazawa menyelamatkan bisnisnya? Apa Daichi akan tetap bantu-bantu ayahnya, atau memilih bekerja di perusahaan lain jika lamarannya diterima? Hmm.



Drama Rikuou lebih bagus dari yang saya duga. Tadinya saya menyepelekan drama ini. Asli. Persis kayak betapa saya awalnya menganggap remeh Hanzawa Naoki, berpikir "Ah drama korporat mana asyiknya" tapi berujung maraton delapan episode dalam sekali duduk. Kualat. Langsung dipaksa menjilat ludah sendiri.

Human dynamics yang diperlihatkan dalam tiap episode Rikuou tampak tak dibuat-buat. Tidak pula terasa didramatisir berlebihan. Memang ada sih satu-dua adegan yang agak stretching, namun bisa diampuni karena nggak bertebaran tak terkendali. Relasi ayah-anak antara Miyazawa Koichi dan Daichi yang punya awkward distance benar-benar nggerus ati. Sosok Miyazawa sebagai pemimpin perusahaan di mata para pegawainya terbaca dengan jelas dari gestur, mimik bicara, dan interaksi mereka. Bagi saya yang lebih pilih nonton ulang Kapten Tsubasa sampai gumoh daripada nonton rekaman seminar bisnis, Rikuou is an unexpectedly delightful watch. And chest-tightening one. 

Baper banget nonton ini. Entah ya, tapi jika menyaksikan bapak-bapak umur 60-an tahun stres, mati-matian mencari cara menyelamatkan nafkah keluarganya dan mata pencaharian pegawai-pegawainya nggak bikin kalian trenyuh sama sekali, I don't know what does. Ditambah ada sebuah kalimat yang diucapkan Daichi, yang kira-kira terjemahan lokalnya: "Hidup tanpa seorang pun yang membutuhkan kita itu menyiksa, lho."

*Berguling-guling baper di lantai kamar.*


However, Rikuou is not without problems. Ada satu masalah cukup besar dari serial ini, yang ironisnya tidak akan kita temukan di novelnya. The problem exists because the TV series screenwriter deviates from the original script. Lmao. Jadi gini. Sepanjang percobaan membuat sepatu lari, ibu-ibu pengrajin di Kohazeya sering diperlihatkan lemburan. Bekerja hingga larut malam bareng-bareng karena perusahaan mereka berpacu dengan waktu. Perjuangan ini dilakukan demi berhasil mendapatkan pinjaman bank, sehingga Kohazeya perlu menunjukkan prototipe sepatu lari yang hendak dikembangkan. Miyazawa, suatu ketika, meminta maaf atas lembur beruntun ini dan berkata, "Tolong bersabar sedikit. Saya akan bayar setelah dana dari bank turun."

Ya oke gaji ditunda dulu. Nggak apa-apa. Toh freelancer juga tiap kirim invoice suka makan waktu sekian purnama baru bisa cair. Namun lantas dikisahkan bahwa pegawai-pegawai ini ikhlas tidak dibayar. Malam-malam lembur mereka anggap sebagai service overtime, yang nggak perlu ditagihkan ke perusahaan. Lah?? Padahal di skrip novelnya, seluruh pegawai Kohazeya tetap dibayar lunas lho oleh Miyazawa.

Mau glorifikasi overworking yaa? Hmm? Sementara karoshi―kematian karena kelelahan bekerja―adalah kasus yang sangat banyak terjadi di Jepang. Siapa nih yang sok ngide mengubah naskah, dari pegawai mendapat upah sebagaimana mestinya menjadi pemerasan tenaga tanpa bayaran semata-mata demi mengabdi pada perusahaan? Makan tuh pengabdian.

Miyazaki menemui pegawai-pegawainya yang mayoritas ibu-ibu.

That and this being said, I'd still recommend you to watch Rikuou. Serial ini ditayangkan di channel Waku Waku Japan dengan jadwal penayangan yang bisa dicek di sini, Apa? Kalian tidak berlangganan televisi kabel? Bahkan nggak punya TV? Wah sama dong seperti saya. Maka silakan tonton Rikuou di streaming platforms. Cek dulu ketersediaannya di katalog platform-platform legal (Viu, misalnya), baru hunting di situs-situs streaming ilegal kalau ternyata nggak ketemu.

Google is your best friend, pal

z. d. imama

0 Commentary:

Post a Comment

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!