Saturday, 18 November 2017

Recommendation Olympics: Shounen Manga I Just Can't Forget


Barangkali jika mendengar istilah 'shounen manga', yang pertama kali terpikir di benak banyak orang adalah judul-judul blockbuster dengan jumlah episode sepanjang jalan kenangan seperti Naruto, One Piece, Bleach, hingga Meitantei Conan. Nggak salah juga sih. Target pembaca shounen manga, sebagaimana namanya, memang rata-rata adalah anak laki-laki dari usia 8-9 hingga 18 tahun (meski pada kenyataan luber ke berbagai jenjang usia dan bahkan merembet hingga anak-anak perempuan―saya termasuk salah satunya). Jumlah shounen manga mungkin ada puluhan ribu, sedangkan pengetahuan yang saya punya tentang itu sangat terbatas. Jadi walau judul postingannya adalah Recommendation Olympics, saya tidak akan mengatakan komik yang nantinya disebutkan sebagai 'rekomendasi' tersendiri dari lautan shounen manga yang pernah ada. Saya cuma akan berbagi sedikit judul yang saya sulit lupakan jalan ceritanya, atau punya kenangan tertentu saat membacanya (or stuck with it and can't escape no matter how hard I try). Sehingga bukan berarti apa yang tidak saya masukkan ke daftar pendek ini jelek. Sama sekali bukan.

Jadi, sudah bisa saya mulai kan ya? Sudah dong.

10. Meitantei Conan - Gosho Aoyama

I don't know why I'm doing this to myself. I don't know why didn't stop this torture already. Meitantei Conan―atau Detektif Conan―rasanya seperti komitmen yang tidak bisa saya bubarkan, entah kenapa. This feels like a marriage I don't remember when exactly I did say "Yes". Saya memang pernah sangat menyukai dia, mengabaikan betapa Gosho Aoyama tidak pernah mampu memutuskan hendak menjadikan Detektif Conan sebuah serial dengan fokus pada plot besar atau hanya case-by-case seperti serial Kindaichi Shounen no Jikenbo. Akhirnya, sebagaimana racauan dan tumpahan frustrasi yang sudah pernah saya tumpahkan di tulisan blog sebelah sini, kesetiaan saya dengan Detektif Conan kini bermodalkan 85% harga diri dan 15% rasa kepalang tanggung.

9. One-Punch Man - Murata Yusuke & ONE

Satu-satunya alasan kenapa serial ini sangat meninggalkan kesan di hati saya yaa... karena ketimpangan yang menganga antara kualitas gambar dengan tingkat keseriusan kisah. Untuk artwork sekeren ini, jalan cerita One-Punch Man terlalu ngasal dan sesuka hati. Mengenai seorang mas-mas bernama Saitama yang memutuskan untuk bekerja full-time sebagai superhero karena hobi, dan akibat saking giatnya berlatih, dia menjadi terlalu kuat. Bikin gemes. Apalagi di volume ke.. tujuh apa ya? Ada empat halaman full-spread (yang artinya delapan halaman portrait) khusus untuk melukiskan secara ekstra-detil sebuah ledakan hebat akibat tinju Saitama. Terserah Murata Yusuke-sensei sajalah. Bodo amat.

8. Tsubasa Reservoir Chronicle - CLAMP

This series is so pretty and filled full with fanservices, in the sense of nostalgic feelings. Berlindung di balik "perbedaan dimensi semesta", CLAMP memasukkan berbagai karakter dan unsur dari seluruh karya-karya sebelumnya ke dalam Tsubasa Reservoir Chronicle. Jujur, saya menduga bahwa sebenarnya mereka cuma males merancang karakter baru. Bahkan protagonis dalam kisah ini pun bukan karakter asing, melainkan mengimpor dari blockbuster series CLAMP tahun 1997, Card Captor Sakura. Tapi bagaimanapun juga, saya akui artwork CLAMP masih tetap secantik biasanya. Format dunia paralel pun menghadirkan angin segar yang lumayan menghibur meski saya sama sekali nggak paham apa yang terjadi dengan plot cerita selepas volume 15―dari total 28 jilid buku―, dan saya juga menyimpan kecurigaan kalau CLAMP nggak terlalu ngerti apa yang ingin mereka sampaikan.  

7. xxxHOLiC - CLAMP

Complementary series untuk Tsubasa Reservoir Chronicles. Dua serial ini berjalan di dimensi, atau dunia, yang berbeda namun saling berkaitan. Mbuh banget, kan. Mengisahkan Watanuki Kimihiro, seorang pelajar SMA yang bisa menyaksikan makhluk-makhluk yang umumnya tidak tampak, dan sudah lelah dengan kemampuan ekstra itu. Dia pun meminta bantuan pada pemilik toko misterius bernama Ichihara Yuuko yang menyanggupi permohonan Watanuki, dengan syarat Watanuki harus bekerja paruh waktu di toko tersebut sebagai bayaran untuk membantu menghilangkan 'penglihatan' istimewanya. Plus points: pretty arts, quirky style, much simpler plot―and less ambitious one―compared to Tsubasa Reservoir Chronicles. CLAMP berhasil melukiskan cerita mengenai dunia supranatural tanpa kesan horor berlebihan. And that is great.

6. Kindaichi Shounen no Jikenbo - Kanari Yozaburo & Sato Fumiya

"...Aku pasti akan mengungkap kasus ini, dengan mempertaruhkan nama besar kakekku!" 

Ciye. Saya mau snobbish sedikit, ya. Serial Kindaichi yang paling saya sukai adalah 27 volume awal, ketika belum ditambahi embel-embel "Returns" atau "R" atau "Special Case" di bagian belakang judul. Pokoknya masa-masa si Kindaichi-nya masih digambarkan gempal, bantet, dan tidak tampan. Sewaktu kasus demi kasus berdatangan satu per satu bagai episode Doraemon, lah. Hingga kemudian Yoichi Takato muncul di volume-volume akhir dan menggegerkan dunia persilatan, lalu melahirkan sekuel-sekuel serial yang berlanjut sampai sekarang, berkali-kali memuat cerita kucing-kucingan antara Yoichi dan Kindaichi yang tak kunjung bubar. But that aside, aspek yang menyebabkan saya tidak bisa melupakan Kindaichi Shounen no Jikenbo adalah penggambaran TKP pembunuhan, pengungkapan trik, serta bagaimana sebuah legenda-legenda setempat ditampilkan untuk jadi kambing hitam rencana kriminal. Kasus perdana yang meminjam kisah Phantom of the Opera saja sudah sukses bikin saya susah tidur bermalam-malam. Serem banget anjir.

5. H2 - Adachi Mitsuru

Perkenalan pertama saya dengan Adachi Mitsuru-sensei adalah lewat serial ini. Saya terus terang tidak terlalu menyukai genre sports manga―walaupun cukup banyak judul yang pernah dibaca―karena keluhan yang sama: kalau bukan jalan cerita yang terlalu diburu-buru kayak lagi dikejar rentenir, ya justru nggambleh dan terasa dipanjang-panjangin banget gara-gara popularitas tinggi. H2, secara mengejutkan, sungguh berhasil membuat saya (yang sama sekali tidak mengerti baseball ini) tenggelam dalam alurnya yang relatively slow-paced tetapi tidak lagging atau dragging. Kayak hidup aja, gitu. Panel-panel yang sepintas tampak sepele ternyata berperan dalam menjaga konsistensi nuansa dan pergerakan kisah. Belum lagi drama coming-of-age yang dialami tokoh-tokohnya. Aduh mak. Nggak kuat.

Cuma sayangnya, Adachi Mitsuru-sensei tampak kedodoran dalam membuat karakter dengan penampilan yang distinctive satu sama lain. Seumpama tokoh-tokoh buatannya dari berbagai serial dikumpulkan dalam selembar ilustrasi, saya sudah nggak akan bisa mengenali siapa yang mana. Mukanya sama semua, men.

4. SKET DANCE - Shinohara Kenta

I love this series to the moon and back. Anggap saja SKET DANCE adalah serial Gintama versi anak sekolahan (komikusnya, Shinohara Kenta-sensei, pun mengakui terinspirasi dari Gintama karena sebelumnya dia pernah bekerja sebagai asisten Sorachi Hideaki-sensei). Cerita berfokus pada klub volunteer/helper jack-of-all-trades yang digawangi oleh Fujisaki "Bossun" Yuusuke selaku ketua klub, Onizuka "Himeko" Hime (juga terkenal sebagai "Onihime" alias Putri Setan), dan wibu otaku berkacamata Usui "Switch" Kazuyoshi. Traits masing-masing karakter yang khas satu sama lain serta interaksinya benar-benar menyenangkan untuk diikuti. Saya juga sangat menyukai betapa serial ini tidak sekadar happy-go-lucky namun juga memberikan setiap tokoh panggung tersendiri untuk memiliki backstory yang diungkap pelan-pelan, serta perkembangan kepribadian yang tumbuh sepanjang 288 bab, 32 jilid buku.

SKET DANCE sudah diterbitkan di Indonesia oleh Elex Media Komputindo. Sekarang saya sedang dalam usaha mengumpulkan seluruh serinya. Rilisan terakhir masih volume belasan, belum jauh-jauh amat jika ingin mengejar ketinggalan. Wellthis is the least we can do to show support for the artists, isn't it?

3. Chrno Chrusade - Moriyama Daisuke

Whatever you say, Chrno Crusade is my forever love. This series, shounen as it be, was the first one to successfully rip my heart apart. I relate to the female protagonist, Rosette Christopher, to a spiritual level.  Meski ceritanya tamat hanya dalam delapan jilid, perjalanan Rosette yang membuat kontrak dengan iblis bernama Chrno untuk mencari dan menyelamatkan adik laki-lakinya, Joshua, yang diculik iblis lain meninggalkan kesan sangat kuat dalam diri saya. Ya ampun setiap kali inget Chrno Crusade tuh bawaannya baper terus kepengin baca ulang kemudian jadi lebih baper lagi setelah baca. Nggak tertolong, lah.

Agak sulit menerima kenyataan bahwa Chrno Crusade adalah komik debut Moriyama Daisuke-sensei. How he crafted the story, connected it into some particular historical events, how he built up the conflicts or inserted additional characters here and there... everything felt so good nothing was out of place. Even the ending felt perfect, even if it didn't exactly fit into 'happy' category. Kok bisa sih bikin cerita sesolid ini?? *jambak-jambak rambut sendiri*

2. Yakusoku no Neverland - Shirai Kaiu & Demizu Posuka

Ini dia. Satu lagi serial yang paling jago bikin saya galau menanti rilisan bab lanjutannya selain Akatsuki no Yona. Terbilang masih baru (bab satu dirilis pertengahan tahun 2016 di Weekly Shounen JUMP), Yakusoku no Neverland langsung sukses menjadi sebuah serial yang sangat saya nantikan perkembangannya. Tidak hanya itu, sebisa mungkin saya berusaha mencetak downline―alias berupaya menghasut orang-orang yang belum mengenal komik ini agar ikut coba-coba membaca juga. Premis Yakusoku no Neverland sederhana (versi tanpa spoiler sama sekali): sekelompok anak-anak hidup bahagia di panti asuhan Grace Field House, hingga suatu hari dua orang anak tertua, Emma dan Norman, mengetahui bahwa sebenarnya tempat yang mereka tinggali bukanlah panti asuhan biasa dan berusaha menyusun rencana untuk kabur dari sana bersama seluruh 'adik-adik'nya.

Yakusoku no Neverland berhasil membuat saya sayang setengah mati dengan anak-anak yang hidup di panti asuhan Grace Field House. Rasanya hasrat untuk memeluk Emma, Norman, Ray, Phil, dan belasan bocah lainnya tuh kuat banget. Apalagi saya memang pada dasarnya bakat baperan sejak lahir jika menyangkut kisah fiksi.

1. Hagane no Renkinjutsushi - Arakawa Hiromu.

Alias Full Metal Alchemist. You guys see this coming, I bet. This series has everything I need. And it comes with Colonel Roy Mustang and First Lieutenant Riza Hawkeye for the cherries on top. Pokoknya jika sudah menyangkut dua orang itu saya mah pasrah. OTP nomor wahid. But on a more serious topic, Hagane no Renkinjutsushi manages to wrap up complex topic and philosophical theme into something interesting that is easier to understand. It tells a lot about ambitions, consequences, trauma, atonement for past mistakes, and 'greater good'. Saya yakin sangat mudah bagi kalian untuk mengerti bahwa tokoh favorit saya dalam serial ini adalah Roy Mustang. Andaikan mas Mustang nyapres buat Indonesia, kemungkinan besar saya bakal langsung mengajukan diri untuk masuk di tim suksesnya. Apapun akan saya lakukan. Perjuanganku hanya untukmu, mz.

Bagi kalian sendiri, adakah judul-judul komik yang nggak terlupakan? Bisa dituliskan di kolom komentar supaya bisa saling berbagi. Lalu, jika ingin menengok episode #RecommendationOlympics sebelumnya yang membahas shoujo manga, silakan klik sebelah sini.

z. d. imama

8 comments:

  1. Dari semua yang kao sebutkan ituh, akuh cuma pernah baca Conan dan Kindaichi. Hihihihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kindaichi sekarang diterbitkan ulang sih mbak, tapi mahal dan kertasnya jele syeqali :")))

      Delete
  2. Saya setuju dgn komentar mb di atas hehehe walo yg suka saya baca cuma Conan dan kadang masih beli pas iseng


    Tapi komik favorit saya tetaplah KungfuBoy

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHAHAHA ketahuan generasinya deh Om :3

      Delete
  3. Aku baca Conan, Kindaichi, yang berbau Clamp dan Full Metal Alchemist. Anehnya Full Metal Alchemist kok aku lupa ya ceritanya HAHAHAHA (duh harus baca ulang)

    ReplyDelete
    Replies
    1. A.. aku tidak terima kak Chika nggak ingat ceritanya Fullmetal Alchemist (T ^ T)

      Delete
  4. Monsternya Naoki Urasawa sensei!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah saya nggak punya kedekatan emosional tersendiri dengan Monster-nya Urasawa-sensei. Jadinya ya nggak dimasukkan daftar ini. Tapi memang bagus banget kok.

      Delete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!