Wednesday, 6 September 2017

The World of Ghibli Jakarta: A Taste of Fantasy, A Different Sense of Reality (Part One)


Studio Ghibli. Dua kata yang baru saya kenal sejak kurang lebih tujuh tahun terakhir, tapi merupakan satu dari segelintir perkenalan yang paling saya syukuri sepanjang hidup. Pengalaman perdana nonton film Ghibli memang saat masih duduk di bangku SMP, hanya saja ketika itu saya nggak tahu sama sekali mengenai studio pembuat filmnya. Yeah, that happens a lot.

Rasa suka (dan terima kasih) kepada Studio Ghibli menjadi motivasi utama keikutsertaan saya pada event #GhibliJKT tahun 2016 silam. Ternyata event itu ditindaklanjuti tahun ini dengan serentengan acara Studio Ghibli di Jakarta―bahkan beberapa kota-kota lain di Indonesia. Mulai dari movie screening tiap bulannya, lomba mewarnai untuk anak-anak, dekorasi mobil, film festival, hingga puncak acara yakni exhibition (alias: pameran) The World of Ghibli, yang diselenggarakan di Ballroom Ritz-Carlton Pacific Place Mall, 10 Agustus - 17 September 2017. Saya yang sampai detik ini terlalu bokek untuk pergi ke Museum Ghibli di Mitaka, Jepang sana, tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan berkunjung saat ke pamerannya bisa hadir di Jakarta. Sorry, AirAsia. Won't buy your ticket to Tokyo in the near future. I have what I need here. That girl using popcorn box to get Suzuki Toshio-sensei's autograph is coming to The World of Ghibli Exhibition in Jakarta.

Noboby can stop me. Not even the fact that I have no money. Nabung, bos! I started saving my ticket's worth of penny since the day Kaninga announced they are doing an official Ghibli exhibition in Jakarta. LOOK WHAT YOU MADE ME DO, STUDIO GHIBLI! LOOK!

Saya berangkat ditemani Puti, seorang beauty enthusiast sekaligus vlogger yang nggak tahu kesambet apa bersedia menjadi teman saya. Kami janji ketemuan di Stasiun Sudirman sebelum bersama-sama berangkat ke lokasi pameran di Pacific Place Mall yang ada ATM tarikan minimum dua juta rupiah itu. Proses masuknya pun relatif mudah. Setelah melalui gerbang pemeriksaan, tinggal menuju meja registrasi untuk pendataan nomor tiket dan mendapatkan gelang akses.

Coba tebak tangan saya yang mana?

Secara garis besar, The World of Ghibli Exhibiton punya dua area. Pertama adalah area luar pameran yang terdiri dari merchandise stall dan performance stage. Di panggung luar pameran itulah beberapa penampil akan membawakan lagu-lagu soundtrack film Ghibli. Jadi bagi pengunjung yang sudah capek muter-muter di dalam, atau menunggu anak/pasangannya yang masih belum puas keliling pameran, bisa duduk-duduk di depan performance stage sambil menikmati musik yang dimainkan. Tidak jauh dari panggung ada stall yang tampaknya juga menjual refreshments, sehingga tidak perlu cemas kalau tenggorokan haus.

Area pameran dibagi lagi menjadi tiga sektor. Saat gelang akses di-scan, mbak-mbak usher volunteer berpesan bahwa untuk dua area awal tidak diperbolehkan mengambil gambar maupun merekam video. Pokoknya cuma boleh ditatap mata dan diukir dalam kenangan. Oke, mbak. Beres. Tenangno pikirmu aku ora arep njepret foto ning kene. Selangkah memasuki sektor pertama―yang saya rasa adalah bagian perkenalan Studio Ghibli―pengunjung disambut oleh foto dan profil eyang-eyang pionir yang berperan penting membesarkan Studio Ghibli. Termasuk salah satunya, Miyazaki Hayao-sensei yang rajin dikabarkan mau pensiun tapi beberapa bulan kemudian bosen dan memutuskan pensiun dari pensiunnya. Di dalam sektor pertama ini juga dipamerkan variasi poster-poster film Studio Ghibli, desain karakter, serta sketsa-sketsa mulai dari Tenkuu no Shiro Laputa hingga Red Turtle: Aru Shima no Monogatari. Bagus-bagus banget. Selain tidak boleh direkam serta difoto, segala yang dipamerkan di bagian ini tidak boleh dipegang. Biar awet. Supaya nggak cepat kotor akibat terjamah tangan sekian banyak manusia. Mari dipatuhi bersama-sama peraturannya.

Berikutnya adalah Trailer Room. Sebagaimana namanya, di sini ada pertunjukan trailer film-film Studio Ghibli yang selama ini sudah pernah dirilis. Hitung-hitung mencicipi gimana rasanya nonton trailer film-film kesayangan dengan layar lebar (biasanya kan cuma modal laptop/TV). Meski tidak ada bangku yang disediakan di Trailer Room, berhubung karpet Ritz-Carlton empuk jadi tinggal duduk atau goler-goler sesuka hati jika mau menikmati semua trailer yang diputarkan. 

The Third Zone: Exhibition Area

Finally. Setelah menyaksikan beberapa trailer yang diputar (berakhir baper pasca nonton trailer Kaze Tachinu), saya dan Puti meneruskan perjalanan. Menuju zona di mana kami sudah dihalalkan untuk menekan tombol shutter kamera sepuasnya. Cuma kamera HP XiaoMi, sih... but still. Memasuki area pameran, yang kali pertama menyambut mata pengunjung adalah kipas angin gantung kastil di Tenkuu no Shiro: Laputa

Enak juga ya punya kastil terbang?

Jika kalian sudah bertemu kastil sebagaimana terlampir di atas, siapkan diri untuk kejutan-kejutan menyenangkan berikutnya. Tarik napas dalam-dalam sebelum menoleh ke arah kiri. Pemandangan yang akan memanjakan mata kalian aslinya jauh, jauh, JAUH lebih cakep dibandingkan hasil potretan kamera HP saya yang murah meriah ini. Studio Ghibli really strikes at you. BRACE FOR IMPACT.


Display-display yang dipamerkan bagus-bagus banget. Ya Rabb. Saya nggak pernah ke Ghibli Museum yang di Mitaka jadi tidak bisa membandingkan―secara subjektif dan objektif―tapi begini saja saya sudah senang sekali. Ada beberapa yang menurut saya masih bisa dikembangkan dan diperbaiki, namun khusus mengenai saran, masukan, dan uneg-uneg akan saya paparkan semua di tulisan terpisah yang baru akan saya taruh di blog setelah pamerannya usai. Ulasan World of Ghibli Jakarta bagian pertama ini isinya seputar fans yang bahagia karena akhirnya bisa foto bersama Totoro. Boleh, kan? Boleh, dong. Nggak apa-apa, kan? Nggak apa-apa, dong.

Ada sekitar 20-an buah full-length film yang telah dirilis Studio Ghibli. Apakah semua film ada display-nya? Sayang sekali tidak. Jadi, film-film mana saja yang cukup beruntung untuk dibuatkan display 3D-nya di area pameran? Total ada sebelas judul yang dipilih, yakni Tenkuu no Shiro Laputa, Kaze no Tani no Nausicaa,  Kurenai no Buta, Gake no Ue no Ponyo, Sen to Chihiro no Kamikakushi, Howl no Ugoku Shiro, Majou no Takkyuubin, Mononoke Hime, Karigurashi no Arietty, Omoide no Marnie, dan tentu saja... Tonari no Totoro. Film Ghibli favorit kalian termasuk yang dibuatkan display-nya, kah? Soalnya favorit saya nggak. Hiks. Nasib jadi hipster. *Mengusap-usap muram poster Mimi wo Sumaseba.*

Saya tahu kalian nggak berminat melihat serentengan foto-foto kunjungan saya ke World of Ghibli Jakarta. Lagipula memang akan jauh lebih oke jika kalian pergi ke pamerannya dan melihat dengan mata kepala sendiri, namun sebagai netizen tidak populer yang bahkan nggak punya akun Instagram, saya bisa pamer di mana lagi jika bukan di blog pribadi? Apalagi saya sangat jarang berfoto. So please bear with me and my pictures, guys.

Here you go.

 
 Flaptter dari film Tenkuu no Shiro Laputa

Undakan di belakang flaptter boleh dinaiki pengunjung sampai anak tangga terakhir. Siapa tahu mau lihat control panel pilot, sekalian foto-foto. Tapi tidak boleh sampai menginjak badan flaptter-nya.

Aslinya jari tangan saya tidak sampai bersentuhan dengan display-nya.

Bulan Agustus kemarin, saat display pameran belum semuanya selesai, saya dan Puti sudah menyempatkan berkunjung. And it was such a wise thing to do. Beberapa tempat yang awalnya tidak dilarang dinaiki/diinjak, rupanya sekarang ada yang diberi pagar pengaman. Off limits. Salah satunya adalah jembatan merah ikonik dalam film Sen to Chihiro no Kamikakushi. Untung bulan lalu saya sudah pernah melakukan pose Kaonashi ala-ala di atasnya. Thank God for this golden chance.

Kaonashi yang tidak kurus.

  
Rumah pemandian Yubaba. Saat didekati, dari dalam terdengar gemericik air.

Ada beberapa display yang pengunjung perlu mengantre agar dapat masuk lalu berfoto-foto di sana. Tentu saja Totoro dan Nekobus termasuk! Dua titik display ini terbilang paling populer bagi anak-anak. Maklum sih... dilihat saja sudah terasa empuk. Beberapa kali saya dan Puti memergoki para volunteer Ghibli menyisiri bulu Totoro agar tidak kempes. Demi Totoro yang selalu camera ready.

Experiencing the life as Totoro.

  
"Di sampingku ada Totoro."

Sadar nggak bahwa foto kanan dan kiri di atas dipotret pada hari yang berbeda? Foto kiri diambil awal bulan September, saat pameran dikabarkan sudah selesai 100% instalasinya. Sementara foto kanan diambil pada kunjungan pertama saya dan Puti, sekitar pertengahan Agustus. Bagian display yang berwarna hitam―yang dimaksudkan sebagai batu-batuan―sebenarnya ringkih dan tidak boleh diinjak. Namun kayaknya memang susah banget mencegah sekian banyak pengunjung menapakkan sepatunya di bagian itu, sehingga sebagaimana bisa dilihat di foto kiri, display bebatuannya sudah agak rusak.

Pengunjung diperbolehkan masuk ke rumah keluarga Kusakabe (Tonari no Totoro) yang terletak di sisi display Totoro. Hanya saja, ruang belajar ayah Satsuki dan Mei yang bertebaran buku-buku dan barang-barang di mana-mana hanya bisa dilihat dari kejauhan. Foto yang diizinkan pun dari luar saja. Oke, ora popo, aku bocahe manutan kok

  
Seperti di rumah sendiri: berani terima tamu dan angkat jemuran keluarga Kusakabe.

Berlatar belakang ruang belajar Bapak Kusakabe, ayah Satsuki dan Mei

"You jump, I jump?"

Di depan rumah Arietty sambil membawa sebongkah gula. Nggak dibukain pintu.

Salah satu display yang belum bisa diakses ketika kunjungan perdana tetapi sudah all you can enter saat kedatangan kami berikutnya adalah hutan dalam film Mononoke Hime. Dihadirkan di The World of Ghibli Jakarta lengkap dengan tuyul-tuyul putih... yang saya lupa nama sesungguhnya apa. Tolong saya dibantu, dong.

 
Layaknya hutan beneran... dalemnya gelap banget, guys.

Toko rotinya Kiki (Majou no Takkyuubin) pun merupakan spot populer di The World of Ghibli. Ya gimana nggak... perintilan-perintilannya ternyata makanan beneran. Dulunya, sih. Roti-roti itu sudah diawetkan dengan resin dan entah apa sehingga sudah tidak edible lagi. Tapi visualnya masih kayak enak banget. Pengunjung yang mau berfoto di dalam toko dipinjami bando berpita khas Kiki serta plushie Jiji, kucing piaraan Kiki, agar kian hakiki.



Sebuah transaksi jual-beli fiktif yang dipotret dengan gemilang oleh @ruarrrbiyasa.

Foto saya (bersama Puti) selama di The World of Ghibli Jakarta terus terang masih ada segambreng lagi, tetapi demi prinsip sederhana "Tidak akan memposting foto semua display yang ada di pameran" dan supaya kalian yang membaca tidak terkena muntaber akibat terlalu banyak terekspos foto-foto saya... akhirnya sampai di sini saja. Saya senang sekali bisa datang ke The World of Ghibli. If you are a Studio Ghibli fan, you have to come. Semacam fardu 'ain, hukumnya. Jangan puas hanya dengan melihat foto-foto yang diunggah orang lain ke internet. Harus lihat sendiri.

Jangan lupa mampir ke merchandise stall. Buang semua sisa uang kalian di sana! Harga souvenir/official merchandise Ghibli yang tersedia memang tidak bisa dibilang murah (barangkali faktor ongkos dan... pajak), tetapi jika mengingat bahwa kita nggak usah bayar tiket pesawat Indonesia-Jepang bolak-balik, jatuhnya tetap lebih hemat kok. Kali ini saja lupakan logika dan biarkan cinta berbicara. Boroooong!

This is where you should burn all your money.


Terima kasih, Studio Ghibli. 

Terima kasih banyak telah bersedia menghadirkan dunia Ghibli ke Jakarta. Terima kasih telah memanjakan fans-fans film Ghibli di Indonesia. Terima kasih kami sudah boleh foto-foto padahal di Jepang saja nggak dikasih izin. Terima kasih juga untuk semua anggota tim produksi pameran The World of Ghibli Jakarta dan keseluruhan event Ghibli di Indonesia tahun ini. Terima kasih mas-mbak usher volunteer yang selalu stand by dan sigap meng-assist pengunjung mengambil foto. Mengenai kritik, saran, masukan, serta uneg-uneg lain... menyusul, ya. Hahaha. Sekarang saya hanya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati. Semoga di lain waktu akan ada lagi acara-acara begini. 

Jangan kapok datang ke Indonesia!

Teman-teman yang belum sempat mengunjungi pameran ini, ayo berangkat laah... Masih ada waktu kok sampai tanggal 17 September 2017. Bagi yang sudah ke sana, boleh lho menuliskan kesan-kesan dan cerita di kolom komentar. Saya senang membaca-baca respon dari kalian.



z. d. imama

*P.S.: Ulasan The World of Ghibli juga hadir dalam bentuk vlog di channel YouTube milik Puti (astarlightinthegloom). Part One bisa ditonton di sini, dan silakan klik di sini untuk Part Two!

35 comments:

  1. krucil belom pernah nonton film film nya
    apa bisa menikmati pamerannya ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya tetap bisa kok, mas. Diajak saja, justru sekalian bisa diperkenalkan dengan film-film Ghibli secara langsung sambil nonton pamerannya. Pas saya ke sana ada banyak kok anak-anak kecil yang usianya terlihat belum paham film tapi tetap lari-lari keliling dengan riang gembira...

      Delete
    2. Anak aku sebelom ke ghibli kasi tonton totoro sama ponyo dulu... Supaya mereka paling tidak ada karakter yg dikenalnya. Untuk anak umur 2-6 tahun. Paling cocok hanya ntn 2 film ini, yang lain mungkin usia sekolah dan remaja lah ya.... Mereka seneng banget disana bisa ketemu neko bus, untung datengnya hari kerja jadi bisa berlama2 cari spot foto. Makasih penulis, jadi terkenang lagi deh pas kesana.... Foto2 mereka bisa cek IG ku juga di twinkarys :)

      Delete
  2. Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Aduh sayang sekali komentarnya dihapus, padahal saya belum sempat baca... :(

      Delete
    3. komen dia yg dihapus itu sama kayak yg trit diatas, mbak imama, yg komen mbak arnida juga (sepertinya dia salah tempat reply nya)

      Delete
  3. Ke sana akhir Agustus kemariiin, dan bahagiaaa rasanya hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhir Agustus jembatan merahnya sudah dikasih pagar pembatas belum? Atau masih boleh dinaiki orang? Saya penasaran :)))

      Delete
    2. Udah bisaa :D pas akhir Agustus yang belum si kapal laputa sama area history of Studio Ghibli :(( pengin bisa ke sana lagi huhu

      Delete
  4. Sangat informatif. Terimakasih.

    ReplyDelete
  5. waaah, keren yak

    nyari temen, ada yang mau kesono kah ? bareng :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke sana sendiri pun nggak masalah kok, karena pengambilan foto bisa dibantu oleh mas-mbak usher volunteer yang stand by di dekat setiap display.

      Delete
    2. pengen ada yg bisa diajak poto bareng gitu, ehh :D

      Delete
  6. Anak kecil yang di Mononoke Hime namanya Kodama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yth. Anonymous,
      NAH IYA NAMANYA KODAMA. Terima kasih banyak sudah mengingatkan saya identitas tuyul-tuyul hutan itu sesungguhnya. X)))

      Delete
  7. Informatif dan menarik :)

    Rencana mungkin antara antara tgl 8/9 Sept ini kesananya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weekend ini ya? Selamat bersenang-senang! Kalau ingat (dan kalau mau), sepulang dari pameran boleh lho saya diberitahu kesan-kesannya...

      Delete
  8. Masuk akhir Agustus (tgl.26) dan waktu itu belum jadi...katanya masih diperbolehkan masuk gratis plus dikasih gelang kalau display sudah sepenuhnya jadi (awal september) apakah benar demikian??
    (ayok nonton film2 ghibli di cgv pacific place mbak...)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul begitu, kok. Saya di kunjungan perdana (pertengahan Agustus) juga belum dapat gelang akses. Awal September kemarin datang lagi, baru tiket disobek sebagian dan diberikan gelang.

      ...Lho gimana saya mau mengiyakan ajakan kalau yang ngajak "Unknown"? :)))

      Delete
    2. ketemu di cgv aja...insyaallah niat nonton film2 ghibli...hampir tiap hari kan skrng ada film2 yg sebelumnya belum ditayangkan di cgv...nanti saya colek mbak kalau pas ketemu...ahahhahah

      Delete
  9. Replies
    1. ini yang komen pasti mantannya

      Delete
  10. Smua foto dirimu ga ada senyum2nya barang sedikit pun *totalospokus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebab yang berhak atas senyum saya hanya orang-orang tertentu. *halah*
      Nggak sih, pada dasarnya saya memang jelek difoto jadi yaa... :))))

      Delete
  11. Replies
    1. Kak Chika sibuk teruuus kaaan :")))

      Delete
    2. Kalau sama kamu kan pasti aku usahakan. #eaaaaa

      Delete
  12. ghibli am coming ...wait for me

    ReplyDelete
  13. Saya penasaran. YANG MOTOIN ITU SIAPA HAMBOK YA KALO NEKEN TOMBOL SUTER ITU TAHAN NAVAS!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Foto yang mana mz itu ada banyak betul fotonya tolong sedykyt spesifik :")))

      Delete
  14. Allahuakbar, saya nyesel buka postingan iniii... huhuhuhu :(
    meskipun usia sudah terbilang lawas, tp Ghibli ini kartun paporit banget lah... hiks. ingin ketemu si catbus dan tottoro, juga robot laputa, dan lainnya :'( *bercucuran air mata

    ReplyDelete
  15. dari stasiun sudirman ke PPnya naik apa mbak? minta info transportnya dong :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. naik bus transjakarta bisa, dari dukuh atas ke arah blok m
      turun di halte polda

      atau order taxi/ojek online aja gampang

      #bantu jawab mbaknya 😃😃

      Delete
  16. padahal aku volunteer ghibli tapi ga dateng ke Exhibition hahahaaa....
    sebenarnya tanpa banyak orang tau, ada banyak kisah dibalik ghibli of jakarta ini. Ikut seneng kalo akhirnya bisa terpuaskan dan dinikmati :)

    ReplyDelete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!