Tuesday, 31 October 2017

Save your "Kirain kalian serius..." comment


Sebenarnya saya defisit pengalaman pribadi yang mumpuni sebagai dasar atau latar belakang tulisan ini. Jomblo. Jumlah mantan pasangan pun kalah banyak dengan jumlah lampu di tiang traffic light. Apa sih yang saya tahu? Tapi sewaktu mengingat kembali apa yang pernah saya alami, rasakan, serta ditambah mengamati orang-orang di sekitar, akhirnya saya putuskan untuk lanjut mengetik. Tidak ada salahnya uneg-uneg ini dilepaskan.

Jadi begini. Memasuki usia 20-an tahun, entah kenapa orang-orang di sekeliling semakin rajin berkomentar terhadap kondisi hubungan romansa. Punya pasangan dikomentari. Nggak punya juga semakin dikomentari. Posisi default saya sih di kalimat kedua, but you knew that already. Tetapi ternyata ada sebuah kondisi tertentu yang juga cenderung sukses memancing komentar kanan-kiri: ketika kita punya pasangan―pacar, tunangan, partnerwhatever you name itdan berpisah setelah cukup lama bersama. Kebayang nggak sih seberapa malesinnya hal tersebut? Sudah patah hati, sedih bercampur kesal (apalagi jika bubarannya nggak terjadi secara baik-baik), eh masih dapat surplus ucapan-ucapan tak dibutuhkan. Salah satu contoh template yang lumayan sering dilontarkan orang adalah:

"Kirain kalian serius, lho."

Gusti Allah. Rasanya hasrat untuk menjungkirbalikkan meja, membanting kursi, memecahkan gelas biar ramai melesat ke ubun-ubun tiap ada yang komentar kayak gitu. Sabar. Sabar. Tarik napas. Oke, saya nggak tahu bagaimana menurut pendapat orang lain, tapi bagi saya secara personal, celetukan tersebut terasa sebagai suatu penghinaan.

Kenapa? Sebab mengasumsikan bahwa saya 'tidak serius' hanya karena hubungan tadi kandas dan tidak berlanjut―misal: bertunangan, pernikahan, artinya mereka menganggap segala perasaan yang saya alami ketika masih bersama pasangan tidak signifikan. Tidak penting. Barangkali nihil. Apa-apaan, coba. Bagaimana kalau setelah menginjak tahun ketiga berpacaran, atau bahkan sudah tunangan, baru ketahuan bahwa ternyata pasangan saya misoginis? Beranggapan perempuan adalah properti laki-laki, lalu sebaiknya tidak usah 'terlalu mandiri'? Bagaimana jika setelah sekian lama bersama, baru terasa bahwa hubungan kami abusif dan tidak sehat? Bagaimana kalau ternyata belakangan diketahui adanya perbedaan prinsip hidup yang tak mungkin dikompromikan?


Apa hubungan romansa antarmanusia hanya bisa dikatakan 'serius' apabila mereka menikah? Hanya boleh disebut 'serius' hanya kalau mereka membangun lembaga sosial terkecil? Lantas apakah, meski menyadari sedang berada dalam hubungan yang tidak sehat dan penuh ketidakcocokan, suatu pasangan harus tetap bersama selamanya sebagai bukti betapa 'serius' mereka? Doesn't that sound, and feel, incredibly wrong to you?

Saya pikir semua emosi yang dialami ketika patah hati, baik itu gara-gara bertepuk sebelah tangan dengan gebetan (persentase terjadi dalam hidup saya sebanyak 95%) maupun putus dengan pacar, adalah jejak keseriusan perasaan saya. Kemarahan. Kekecewaan. Kesedihan. Ketidakpuasan terhadap kenyataan. Segala hal yang bercampur aduk di dalam dada dan menyebabkan perasaan tidak karuan itu merupakan bukti. That I was serious about this thing. I seriously wanted to be with that person. I seriously liked, maybe even loved, that particular someone. I had a bunch of serious fun, and experienced serious happiness. We overcame serious obstacles together. I seriously believed what we had was real. But at the end of the day, I realized that it just didn't work out. All that seriousness is what makes me get brokenhearted. and those people who know nothing like Jon Snow still have the audacity to say, "Lho.. kirain kalian serius."

Seriously, shut up.

z. d. imama

Monday, 30 October 2017

#JadiBisa ke Singapura Tanpa Merana Berkat Traveloka!


Meski tergolong bisa tidur di mana saja (beberapa minggu yang lalu saya bahkan tertidur di lift gedung―sambil berdiri―dan ikut bolak-balik naik-turun puluhan lantai hingga ada rekan sekantor yang ikut masuk lift dan menepuk bahu), kasur merupakan tempat favorit saya untuk beristirahat. Tidak terkecualikan ketika sedang jalan-jalan ke luar kota. Atau ke luar negeri. Nggak sanggup lah kalau nggak ketemu kasur. Sehingga boleh dikatakan bahwa kepastian akomodasi merupakan hal wajib apabila bepergian jauh. Tiket pesawat saja mana cukup..

Masalahnya, bagi gadis kere hore seperti saya, menemukan tiket pesawat dan hotel maupun penginapan dengan harga terjangkau tentunya jadi sebuah tantangan tersendiri. Beli terpisah? Mahal. Belum lagi makan waktu karena harus membandingkan satu per satu harga tiket pesawat antarmaskapai, lalu mengecek dan membandingkan tarif penginapan. Membeli paket khusus yang menawarkan tiket pesawat dan hotel sekaligus akan jauh lebih praktis. Tetapi perkara tidak selesai di sini, saudara-saudara. Banyak tawaran-tawaran paket hotel dan pesawat yang tampak manis di depan, namun ketika ditelusuri lebih lanjut ternyata ada segambreng biaya tambahan, atau persyaratan-persyaratan merepotkan yang relatif sulit dipenuhi. Kalau bukan begitu ya saklek, alias tidak fleksibel. Pelanggan mau tidak mau harus nurut dengan apa yang tersedia dalam paket. Tidak bisa diutak-utik menyesuaikan kebutuhan pribadi. Sungguh pemberi harapan palsu. Padahal saat ini saya sedang punya PR besar: berburu tiket pesawat sekaligus penginapan demi kelancaran proyek akbar menyaksikan konser ONE OK ROCK di Singapura, bulan Januari 2018 kelak (sebagaimana yang telah saya ceritakan di sebelah sini).

Ingin bahagia namun harus tetap bisa ngirit. Hmm... rasanya kok agak kebanyakan mau, ya. Apakah itu hal yang mustahil? Ternyata, tidak juga! Penyelamat saya hadir berupa Traveloka, yang menawarkan paket pesawat dan hotel dengan biaya lebih hemat. Mata saya langsung berbinar-binar, lah. Siapa yang nggak mau cita-cita tercapai tanpa harus nelangsa? Tanpa harus makan nasi garam sebagai kompensasi mahalnya tiket pesawat dan akomodasi?

Apalagi caranya gampang. Banget, malah. Cukup masuk ke situs Traveloka (atau unduh aplikasinya), lalu pilih "Flight + Hotel" yang terpampang di halaman utama. Berhubung ponsel saya relatif produk lawas dan tidak punya memori memadai untuk beraneka rupa aplikasi-aplikasi penyelamat hidup.. saya paparkan pengalaman dengan versi situsnya saja yah.

Ada tuh di barisan keempat yang saya kasih kotak biru.

Begitu dipencet, akan muncul tampilan sebagaimana di atas.

Selesai menekan "Flight + Hotel", isikan kapan kita akan berangkat (dan pulang) di kolom pencarian tiket penerbangan (itu lho, "Flight Details"). Tahap berikutnya, masukkan nama kota yang hendak kita singgahi pada "Hotel Details". Beres? Pencet "Search Packages" dan tunggu loading sampai selesai sementara Traveloka akan mencarikan alternatif-alternatif paket. Keterbatasan duit membuat saya tidak berminat terhadap paket-paket kelas tinggi, maka di sinilah fitur "Filter", khususnya "Price range per person" yang dimiliki Traveloka jadi penolong agar tetap tahu diri, fokus, dan tidak khilaf.

Pokoknya sudah harus dapat akomodasi dan tiket pesawat dengan bermodal dua juta rupiah!

Wah, banyak tersedia paket yang cocok dengan ketersediaan dana saya! Masih ditambah diskon khusus Traveloka pula. Sungguh senang se―lho, tunggu dulu... kenapa jam penerbangannya pukul delapan malam? Nggak keburu nonton konser ONE OK ROCK yang diidam-idamkan sekian lama, dong? Batal ngapelin mas Taka dan mas Toru, dong? Waduh?! Bisa nggak ya jam penerbangannya disesuaikan sendiri sesuai kebutuhan?

TERNYATA BISAAA!
*koprol gembira di kamar kos*

Pada bagian bawah masing-masing paket ada tombol "Change Flight" dan "Change Room", yang fungsinya untuk mengubah jadwal penerbangan atau jenis kamar yang ingin kita pesan. Tanpa ba-bi-bu, saya segera memencet tombol tersebut, yang segera mengantar saya ke halaman lain dengan setumpuk pilihan penerbangan dari berbagai maskapai, lengkap dengan detil berapa rupiah biaya tambahan yang harus dibayarkan jika mengganti jadwal keberangkatan.

Biarpun paket, bisa tetap memilih kapan mau pulang dan pergi sesuai keinginan.

Klik "See more flight options" jika masih belum ketemu jadwal yang pas.

Contoh pilihan-pilihan penerbangan lain yang tersedia.

Setelah klak-klik-klak-klik beberapa kali dan semua dirasa sudah cocok, rupanya total tagihan saya masih bisa di bawah estimasi! Nggak sampai dua juta. Bahkan sisa beberapa ratus ribu rupiah. Luar biasa. Juara. Lumayan banget kan untuk menyambung hidup atau amblas di kekhilafan lain seperti beli merchandise konser. Prosesnya cepat, pula. Setengah jam sudah beres―termasuk mengutak-atik jam penerbangan karena waktu yang dipilihkan paket di awal belum cocok. Pembayaran Traveloka juga nggak ribet sama sekali. Selain metode standar seperti bank transfer dan kartu kredit, Traveloka melayani pelunasan pembayaran melalui minimarket terdekat seperti Indomaret, Alfamart, dan Alfamidi. Sehingga saat kita ditanya mas-mas atau mbak-mbak kasir minimarket, "Ada lagi yang bisa dibantu, Kak?" bisa jawab, "Mau bayar Traveloka". Ciye.

Ada satu hal baru yang saya rasakan setelah menyelesaikan transaksi di atas. Tiba-tiba saya jadi sayang sama Traveloka. Sumpah. Andaikata Traveloka punya perwujudan manusia pasti sudah saya dekap erat-erat sembari berseru tanpa kenal malu, "Oh malaikat penyelamatku, aku telah jatuh cinta padamu!" Gimana nggak? Berkat Traveloka dan paket tiket pesawat plus akomodasinya yang sangat hemat, saya #JadiBisa mewujudkan impian bertemu ONE OK ROCK di Singapura tanpa menderita. Bakal berjumpa salah satu musisi favorit dan setelah itu tidur nyenyak di atas kasur penginapan dengan nyaman, nikmat mana yang bisa saya dustakan?

Terima kasih, Traveloka!

z. d. imama

Wednesday, 25 October 2017

This ambition of me... to "Ambitions" Live in Singapore 2018


I think it's true, the popular saying: "Be careful with what you wish for". Awal tahun 2017 lalu ketika menuliskan ulasan album terbaru ONE OK ROCK dengan tajuk "Ambitions", saya mengungkapkan kesediaan diri untuk berangkat menyaksikan konser band tersebut apabila mereka mampir ke Singapura (karena harapan belok ke Jakarta terasa amat tipis). Itulah mengapa, pada suatu pagi yang redup oleh mendung, tepatnya tanggal 9 Oktober 2017, saya yang agak kurang kerjaan di kantor dan iseng menjelajah situs-situs hampir menjerit kaget membaca pengumuman mengenai ONE OK ROCK Ambitions Asia Tour 2018. Holy shit. It's happening.

Cukup dalam hitungan detik, kesepuluh ujung jemari dan kedua telapak tangan saya mengeluarkan keringat dingin tanpa bisa dicegah. Saya gugup bukan main. Mata pun dengan lincah menyusur nama-nama kota dan tanggal pertunjukan. Brengsek, gini amat sih rasanya... padahal baru juga level nyari-nyari informasi.


Tidak ada Indonesia. Tidak ada Jakarta. Tidak apa-apa, sudah bisa saya duga (saking tidak berharapnya, saya enggan menggantungkan asa pada kalimat "More To Be Announced" yang menggoda itu). Eh... tunggu dulu. Singapura? Hari Sabtu malam? Waini. Ini dia, saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Penggoncang kedamaian hidup akhirnya tiba. Dunia saya seketika gonjang-ganjing. Mana belum gajian begini―sementara gaji bulan lalu sudah dialokasikan dengan sempurna untuk hidup sederhana bersahaja. Buahahahahahangsat.

Saya meneruskan petualangan. Kurang puas. Belum puas. Agak masokis memang. Sudah tahu masih belum punya duit tapi memilih hunting online ticket sales channel dengan dalih ingin mengetahui berapa kekayaan yang harus saya hamburkan demi bertemu mas Morita Takahiro mantan anggota idol group NEWS. Demi memandang mas Yamashita Toru tanpa harus dipisahkan layar laptop merek SNSV kesayangan saya. Rupanya pintu penjualan tiket ONE OK ROCK Ambitions Live in Singapore 2018 secara online hanya melalui Singapore Sports Hub (tautannya saya sertakan, siapa tahu kalian ikut khilaf dan beli). Surprisingly enough, harga tiketnya relatif terjangkau dan masuk akal. Kelas termahal Premium Rock Zone yang berdasarkan firasat saya nantinya pasti bakal disuruh-suruh Taka bikin mosh pits/circle pits dibanderol seharga SGD228. Hampir dua setengah juta rupiah lah. Masih lebih bisa dibayar dibandingkan beberapa konser tertentu yang diadakan di Jakarta―bukan ding, maksudnya Tangerang Selatan. Kan venue langganannya BSD.

Tapi selama Singapura masih belum bisa dicapai dengan berenang, gadis kere hore seperti saya ini tidak boleh sok iye membeli kelas VIP. Atau Premium. Atau segala variasi istilahnya. Wis sing biyasa-biyasa wae, sing penting dudu kelas paling murah. Aku rapopo. Aku legowo. Kalau yang ganteng di Lord of the Rings itu Legolas. *dilempar jumroh oleh massa*

The show starts at 20:00? Hmm.. this is going to be one hell of a night.

Akan saya ingatkan sebentar: segala yang tertera hingga bagian ini terjadi tanggal 9 Oktober. And I found out that the sales for ticket has started since October 6th. Ebuset. Apa kabar neh? Sepanjang tiga hari sudah amblas berapa lembar? Saya buru-buru menekan tombol "Buy Tickets" walau masih bokek. Cek seat plan sekaligus memuaskan rasa ingin tahu tentang ketersediaan tiket. And as it turns out... some sections are sold-outs already. Entah harus girang atau sedih.

Tiket bagian-bagian yang warnanya washed-out sudah tidak bisa dibeli (Screenshot date: October 9th)

Oke. Premium Rock Zone dan CAT 4 sudah dibuang dari peluang perbelanjaan. Saya masih harus memilih antara Standard Rock Zone, CAT 1―harganya sama persis jadi makin bikin bimbang―atau CAT 2 dan CAT 3. Kegelisahan ini sungguh nyata. Apalagi mempertimbangkan faktor waktu; masih tersedia atau tidak ya tiket yang saya harapkan saat hari gajian kelak? Wakacoooo. Kaco. Nervous abis. Saking tegangnya, setiap hari, hampir setiap beberapa jam sekali, saya refleks mengecek perkembangan penjualan tiket di situs Singapore Sports Hub. Pas di kantor. Pas di kosan. Pas sepulang kerja, terombang-ambing digoyang bus TransJakarta yang meliuk-liuk mengikuti jalurnya. Niat banget. Sumpah.

God, I'm beyond help.

Slooooooowly, payday comes. Thank goodness.

Sejak pagi yang ada di dalam benak saya hanya dan hanya, "GAJIAN GAJIAN GAJIAN BELI TIKET BELI TIKET BELI TIKET MANA UANGKU MANA UANGKU". I was obsessed. I was like a person possessed. Hours felt like forever. Menunggu duit berpindah ke rekening rasanya seperti menanti gebetan membalas perasaan suka saya. Lama banget dan penuh ketidakpastian (yang ujung-ujungnya selalu tak berbalas). All those 'What if's started to pop out in my mind and none of them are good. I really want to go it hurts. I want to be a part of the giant ball of marvelous energy in ONE OK ROCK live performance. I want to hear it raw, Taka screaming orders to create circle pits to those people in standing zones. I want to see this expression on his face (and I want to see Toru up close).

Taken from ONE OK ROCK Ambitions Japan 2017 Live in Saitama Super Arena

Yamashita Toru is WAY too distracting (shot from 35xxxv Japan Tour 2015).

Kenapa gini amat sih rasanya jadi fangirl...

Saya paham, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan transaksi pembelian tiket di Singapore Sports Hub hanya lima belas menit. That's the only time one can get before their cart refreshes on its own and the ticket selected will go back to the market. No time to hesitate, and no way in hell I will hesitate. Begitu notifikasi gaji muncul di ponsel saya, detik selanjutnya tombol "Buy Tickets" kembali saya tekan... entah untuk yang keberapa puluh kalinya dalam sekian hari terakhir. Everything after that went blurry. Saya baru sepenuhnya sadar saat ada pop-up message di layar ponsel yang menandakan masuknya sebuah email.

ALLAHU AKBAR OH MY GOD OH MY GOD OH GOD HALLELUJAH??

I've managed to secure one ticket for me.

Had to erase some specific and important details for the sake of privacy... but as you see, I got my share of ticket. Sungguh luar biasa lega rasanya. Tadi seolah-olah dada saya tuh didudukin diri sendiri yang beratnya minta ampun ini. Sesek parah. And now it becomes a lot better, even if I just threw myself into another pool of poverty. I'm going. I'll do my best to make it real. Sekarang tinggal perkara tiket pesawat dan akomodasi untuk nginep semalam di Singapura. One step at a time... one step at a time. *tarik napas dalam-dalam*

KALIAN YANG JUGA MAU BERANGKAT NONTON ONE OK ROCK LIVE IN SINGAPORE KABARIN DONG SUPAYA SAYA ADA TEMAN SEPERJUANGAN??

z. d. imama

Tuesday, 24 October 2017

A tale of dreams, family, and bravery in Secret Superstar


"Dream should be basic rights for everyone, and yet there are people who aren't allowed to dream"

Kata demi kata dalam kalimat tersebut memasuki benak saya dan tinggal di sana. Lama. Bahkan terbawa pulang, keluar studio, menemani saya naik ojek online di bawah terpaan gerimis, mengendap hingga tulisan ini dibuat. Setelah tahun lalu membanting-banting emosi saya dengan film Dangal, yang lantas secara sepihak saya nobatkan sebagai film terpenting sepanjang 2016 (apa itu La La Land, Rogue One, Civil War?), tahun ini Aamir Khan kembali hadir dengan Secret Superstar. Dibandingkan Dangal yang berapi-api, Secret Superstar lebih kalem, tenang, musikal, namun masih membuat saya banyak merenung sekaligus menangis sesenggukan di studio bioskop.

Lewat film ini saya diingatkan betapa impian-impian yang kita miliki kerap kali terbentur realita yang tak bisa dipungkiri. Talents can only give you so much, but support and luck are still important keys no matter what. Betapa kadang-kadang, apa yang menghalangi seseorang mengejar impian dan meraih cita-citanya justru adalah pihak-pihak terdekat. Mereka yang paling diinginkan untuk menyemangati dan memberi dukungan. This is a tale about chasing dreams, the importance of family and companion, also bravery, wrapped up in 155 minutes-length of beauty that maybe, for some people, feels too close to home. One of those people is me.


Kisah Secret Superstar menyorot seorang remaja perempuan Muslim bernama Insia Malik (diperankan oleh Zaira Wasim, yang sebelumnya tampil gemilang sebagai sosok kanak-kanak Geeta Kumari Phogat di film Dangal). Masih berusia 15 tahun, Insia dikenal teman-temannya di kota Baroda sebagai anak yang bersuara merdu dan pandai bermain gitar. Pokoknya jika dia sudah gitaran dan genjrang-genjreng sendiri, tidak ada satu orang pun yang berani nimbrung nyanyi karena semua ingin mendengar suara Insia. Gitar tua kesayangannya diperoleh dari sang ibu, Najma, yang dihadiahkan sewaktu Insia baru 6 tahun. Menyadari hobi dan bakat pribadi, Insia pun bercita-cita menjadi penyanyi yang kelak akan mampu menyabet penghargaan musik ternama Glamour Awards kategori "Best Singer".

Sayang, Farookh Malik, sang ayah, tidak pernah menyukai kegemaran Insia bernyanyi dan bergitar. Bahkan boleh dikatakan bahwa dia tidak menyukai Insia. Anak emas Farookh adalah adik laki-laki Insia, Guddu, yang masih belum bersekolah. Agar dapat berusaha mewujudkan cita-citanya, Insia harus mengakali dan bermain kucing-kucingan dengan ayahnya sendiri, yang mana bukan perkara mudah karena Farookh sangat gampang naik pitam. Harus selalu hati-hati. Siaga satu setiap waktu; constant vigilance. Bermodal gitar dan laptop biru yang lagi-lagi merupakan hadiah dari ibu, Insia mulai mencoba memasyarakatkan suara bernyanyinya lewat video-video yang diunggah ke YouTube channel "Secret Superstar" miliknya. Di sana, Insia tampil lengkap dengan burqa untuk menjaga agar identitas aslinya tidak ketahuan orang lain... terutama si ayah.


Ternyata nyanyian Insia menarik perhatian orang-orang. The power of internet, huh? Salah satu dari sekian banyak pihak yang terkesan adalah music director Shakti Kumaar (Aamir Khan) yang karakternya terlalu eksentrik sampai-sampai susah dipahami dan dianggap brengsek oleh khalayak. Namun ketika semua terlihat berjalan lancar, Insia harus mengalami berbagai peristiwa beruntun yang menyebabkan segenap angan, harapan, pun impiannya buyar tak bersisa. Perjuangan mewujudkan mimpi ternyata tidak akan pernah bisa ditempuh seorang diri.

Apa Insia memang harus mengubur semua cita-citanya?

Insia kesenengan baca-baca komen di video channel YouTube-nya.

Just like Dangal, but offering different taste for a change, this is a movie about empowerment. Penceritaan tidak bisa dikatakan mulus; terkadang ada bagian yang terasa lambat maupun agak tergesa-gesa dikembangkan. Tetapi secara keseluruhan, Secret Superstar masih sangat bisa dinikmati. And the camera works are excellent every scene looks pretty yet still very much natural. Chemistry setiap pemeran sangat believable. Interaksi dan hubungan antara Insia dengan teman cowok sekelasnya, Chintan Parekh, begitu menggemaskan dipandang mata. Terasa tulus. Apa adanya. Salah satu aspek favorit saya sepanjang film ini. Zaira Wasim is pure talent, y'all. I know Aamir Khan loves this girl and I guess we can totally understand the reason. Casting department did a great job in finding the pitch-perfect ensemble. Meher Vij, gracing the screen as Najma, is that one mother you want to defend, protect, and cheer upon, albeit sometimes she frustrates you to no end.

Bagaimana Aamir Khan menyelipkan fenomena-fenomena sosial di masyarakat India pun tidak pernah lepas dari perhatian, sekaligus kekaguman saya. Melalui Secret Superstar, kita diingatkan bahwa masih ada orang di luar sana yang berpandangan bahwa anak perempuan adalah beban. Liability. Tidak bisa memberikan kebanggaan apa pun. Tidak membawa masa depan bagi keluarga. It's 2017 and such sickening thoughts still exist. And that is why this movie also serves as an empowerment. It's a reminder. For us. That we are totally allowed to pursue what we want to chase despite going against all odds. And we should realize that most of the times, we are not fighting alone. And as long as we have that trustworthy 'support system', it will be alright.


"To mothers... and motherhood." - Secret Superstar, 2017.

For you guys who worry about 'Bollywood' movie: tenang bos, tidak ada adegan orang nyanyi yang merekrut pasukan warga untuk joget-joget bedol desa di belakang. We got plenty of good songs, but calm your tits, it's only fair because Insia aspires to be singer so of course we get to see her singing. A lot. Trust me, you'll like it. Me? I end up loving every single song. Arguably 8.6 out of 10. Saya mau berpesan sekali lagi sebelum menyudahi tulisan ini, tolong ingatkan jika kelak saya sudah kaya-raya untuk membuat berhala berbentuk Aamir Khan. Mandat demi tercapainya sebuah misi penting.

z. d. imama

Thursday, 19 October 2017

Between clarifying and justifying


Sehubungan dengan self-proclamation saya sebagai whiny blogger, kali ini kita kembali pada episode ngomel-ngomel berikutnya. Terakhir kali saya menumpahkan isi pikiran tentang hal-hal yang saya lihat terjadi di sekeliling adalah dalam tulisan ini, yang entah bagaimana bisa bertengger di posisi puncak sebagai entri yang paling banyak dibaca orang. Okay, that is not too long ago. I know that. But my head is one noisy, crowded, hell so I need to put some things into 'Google Drive' kind of place and that place is this blog. Saya terus terang senang bukan kepalang jika ada yang membaca isi blog saya, but seriously, the eternal question from me would be: why?

"Manusia tempatnya kesalahan."

Mari kita awali tulisan ini dengan kalimat yang rasa-rasanya sudah overused tersebut. Namun yaa... memang tidak ada manusia yang sempurna, kok. Setiap orang pernah berbuat salah. Termasuk saya. Salah saya banyak banget, malah. Tapi yang terpenting sebetulnya seperti apa bentuk kesalahannya, lalu apa dan bagaimana yang dilakukan seseorang setelah kesalahan tersebut diperbuat. Ya nggak, sih? Atau saya salah lagi?

Sejauh saya lihat, banyak orang-orang di sekitar kita yang sangat, sangat, SANGAT sulit menerima kritik, saran, apalagi teguran saat melakukan kesalahan. Nggak perlu pakai kata 'salah', deh. Nanti sewot. Gini saja: banyak dari kita kerap melakukan hal yang mengganggu kenyamanan, menyerobot hak, memandang rendah serta mendiskriminasikan orang lain namun sewaktu ditegur justru reaksinya lebih ofensif dibandingkan yang memperingatkan. Kan lucu. These people, then, begin to make excuses. They start to justify themselves. And sometimes, that just won't do. If other people get your points wrong, or if you do make mistakes, it's okay (advisable, even) to make clarifications. But it's better not justifications.

Komik Calvin and Hobbes tentang justifikasi.

Barangkali banyak yang tidak mengerti―mungkin justru tidak peduli―bahwa ada perbedaan antara kedua hal tersebut. But you should care. You should know. Saya akan mencoba ambil pengertian yang mudah dipahami saja (bisa dilihat langsung di sini). Clarification is the act or process of making things clear, by freeing something from visible impurities, double entendre, or ambiguity. On the other hand, justification is an explanation, an excuse, a reason, that one try to offer which produces acceptable support for behavior, belief, or occurrence. Kelihatan kan bedanya? Saat seseorang mengatakan suatu hal yang heavily-contextual dan spesifik di ruang publik, lalu ada yang memaknai kata-kata tersebut dalam konteks berbeda, pihak pertama bisa kasih klarifikasi untuk meluruskan. Menghilangkan makna ganda. Atau jika memang kita berbuat keliru, bisa saja mengklarifikasi dengan, "Maaf. Tadi saya salah. Seharusnya tidak demikian."

Justifikasi juga boleh disebut 'pembenaran'. Ya gitu. Sesuai namanya, kita mati-matian mencari alasan yang dapat membenarkan perbuatan kita... yang kurang layak didukung. Contoh? Banyak. Beranggapan kaum LGBT adalah penyakit jiwa (dianggap menular, perlu direhabilitasi bahkan dikarantina), tapi saat dikoreksi bahkan dengan bukti-bukti ilmiah justru berlindung di balik 'kebebasan berpendapat'. Saya pernah menegur mas-mas pemotor yang naik ke trotoar sewaktu jalanan macet, eh dia malah bilang, "Lah itu mereka juga!" dengan sewot. Yaelah dasar sobekan sampo saset. Cuma gara-gara kalian melakukan itu berombongan, bukan berarti motor naik ke trotoar jadi tindakan yang oke.

Jenis-jenis justifikasi yang cukup sering saya temukan dalam masyarakat yang kadang rasanya sulit diharapkan ini di antaranya:

  • "Ya nggak apa-apa lah, kan kebebasan berpendapat!"
  • "Halah yang lain juga begitu!"
  • "Suka-suka gue, kan."
  • "Gue orangnya asik, terbuka, dan liar, jadi pikiran lo juga harus terbuka kalau ngomong sama gue." ― padahal aslinya cuma nggak mau dibantah aja.
  • "Berani ya anak jaman sekarang sama orang tua. Nggak sopan." ― kata seseorang yang kena tegur karena nyerobot antrian.
  • (Bisa ditambahkan sendiri di kolom komentar... jika berkenan.)

Sesulit itu ya menerima teguran, saran, atau kritik dari orang lain, bahkan yang diucapkan dengan sopan dan tanpa menyebut ungkapan-ungkapan yang merendahkan intelektualitas? Sebesar apa sih ego kita? Meski saya sendiri masih terus mencoba belajar untuk tidak ngeles kayak bajaj dan melemparkan pembenaran bertubi-tubi secara brutal ketika dapat masukan, perkara ego ini adalah hal yang tidak kunjung mampu saya mengerti. Entah kenapa.

*Heavy sigh*


z. d. imama

Monday, 16 October 2017

Farewell, THR Sriwedari. Thank you... and I'm sorry.


Another part of my childhood is dying. And to top it off, it is planned and expected to be gone forever by the end of this year. I lived and grew up on the outskirts of Surakarta, and for twelve consecutive―minus the part when I studied at a Japanese high school―years I went to schools located in the same city (my kindergarten was in Sukoharjo, though). As a regular kid, going to amusement park is like visiting a different world, filled only with fun things and exciting rides, not caring about how much our parents need to pay for the entrance tickets or souvenirs or snacks or everything. And for a kid living in Surakarta, a small city in the middle of the Island of People, Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari was my―and I bet, many other kids'―only savior. 

THAT PLACE, WAS, THE BOMB.


Until the day I realize it no longer can survive comes. Pagi itu saya duduk di depan komputer kantor dan mendapati berita yang menyatakan bahwa THR Sriwedari akan berhenti beroperasi setelah bertahan selama lebih dari 30 tahun, dan akan mem-PHK seluruh karyawannya. Reaksi pertama saya adalah tipikal, "Wait. WHAT?" yang ketika saya renungkan lagi, itu adalah kejadian yang barangkali tak bisa dielakkan. Bahkan saya mungkin juga berkontribusi di balik ketidaksanggupan THR Sriwedari mempertahankan napas eksistensinya. The following night, I cried a great deal of tears over chat conversation with a fellow high school mate, Fara, remembering old days and imagining how tough the past months, or years, must be for THR Sriwedari and all the people in it.

Saya tidak menyediakan subtitle bahasa Jawa bagi yang membutuhkan. Maaf.

Berita yang saya maksudkan. Pranala ada di paragraf atas.

I remember. Fara remembers. How years ago, with our parents, we excitedly visited THR Sriwedari, bringing our study report as a proof so that we can get freebies and gifts like small bag or other things. How years ago, along with other kids, we dressed up and joined drum band competitions for kindergartens held in THR Sriwedari. And like a slap across my face, it hit me hard: how everything is in past tense.

Kapan saya terakhir kali mengunjungi THR Sriwedari?

Tahun 2012. Sudah lima tahun silam. Ketika itu saya mengerjakan proyek buku tahunan bersama rekan-rekan sekelas dan memilih THR Sriwedari sebagai setting lokasi. Saat kami datang, suasana di dalamnya terbilang sangat sepi untuk sebuah taman hiburan. I didn't see it as a big deal, to be honest. Saya menganggap itu bisa dimaklumi karena kebetulan kami ke sana di hari kerja. Tapi di tahun-tahun berikutnya hingga detik ini, saya tidak lagi menginjakkan kaki ke sana. Barangkali rekan-rekan sekelas saya pun tidak. Bahkan adik saya, yang usianya terpaut nyaris satu dekade dengan saya, juga krisis kunjungan ke THR Sriwedari. We left. I left. My feet went somewhere else. I, as time goes by, forgot about that one particular place I once had terrific fun as a child. Maybe this is just me. But maybe there are also people like me, who moved to different city and not coming back. I return to my hometown not too often, and when I do, THR Sriwedari is always out of my "Place to Visit" list. I left it behind. I abandoned it.

Sehingga saat mas Kusumandaru mengunggah beberapa foto THR Sriwedari hasil bidikan kameranya di sini dan di sini, saya mati-matian menahan tangis di kantor. Gambar-gambar yang diambil petang hari menjelang magrib itu memperlihatkan keadaan THR Sriwedari saat ini. Taman hiburan yang teronggok di sudut kenangan. Lebih banyak terlupakan. Looking aged, frail, tired, and battered. Ditinggalkan oleh orang-orang yang semasa kecil pernah begitu girang menikmati segala yang ada di dalamnya―dan saya adalah salah satu dari mereka. Membuat dia, lama-kelamaan, mati perlahan.

Merry-go-round that is neither going around nor looking merry. Photo credit: Kusumandaru.

Kolam renang tanpa suara kecipak air. Photo credit: Kusumandaru.

Senyuman karakter-karakter pop dari balik cat yang mengelupas. Photo credit: Kusumandaru.

Boom-Boom Car yang tidak saling bertumbukan. Photo credit: Kusumandaru.

Photo credit: (still) Kusumandaru.

Seharusnya saya yang berterima kasih, THR Sriwedari. 

Thank you for being there in my childhood days. Thank you for being my source of happiness, splashing bright colors in my pretty ordinary elementary schooler life. Terima kasih banyak telah menemani masa kanak-kanak saya dan menghiasinya. Terima kasih atas segala tawa, senyuman, dan keriaan yang pernah saya rasakan sewaktu berkunjung ke sana. And I'm sorry for not doing anything to keep you around longer. I'm sorry I've forgotten about you, for years, until it's too late. You won't be here by 2018, but this short piece of writing will always stay in this blog of mine.

z. d. imama

Thursday, 12 October 2017

All that postcard in my hands


Sebagaimana yang sudah saya tuliskan di sini, belakangan saya cukup rajin mengirimkan kartupos kepada beberapa orang. Menuliskan hal-hal remeh nan tidak penting di kolom kosong yang kadang dipakai menyapa saja sudah penuh sesak. Membeli perangko dan mengirimkan ke kantor pos terdekat (yang mana artinya di lantai bawah gedung tempat kantor saya berada), lalu menunggu. Menanti kabar dari orang yang saya kirimi bahwa kartuposnya sudah tiba di tujuan. Dari pengalaman singkat yang saya miliki, terdapat satu kesimpulan aneh: kartupos yang dikirim ke luar Indonesia justru lebih sering sampai dibandingkan dengan yang alamat tujuannya masih dalam negeri. Entah kenapa. Mungkin yang di dalam negeri dicemilin sama pak pos sepanjang perjalanan kali ya, sebagai pengganti keripik.

Beberapa kartupos yang saya kirim mendapatkan balasan. Ada juga yang bahkan tanpa saya kirimi sebelumnya berkenan mengirim kartupos. Saya tersentuh, lho. Sumpah rasanya senang sekali. Sempat terpikir untuk membuat akun Instagram hanya demi memajang kartupos-kartupos yang berhasil sampai di tangan saya. Tapi akhirnya ya... niat itu urung diwujudkan. "Sudahlah, masukkan saja di blog..." begitu putus saya.

Mari kita mulai.


Kartupos dari mas Sandalian, yang  bermurah hati menawarkan saya untuk memberikan alamat tujuan karena akan dikasih kartupos. Huhuhu saya terharu. Sampainya relatif cukup lama (padahal sudah dikasih perangko lumayan banyak), tapi syukurlah berhasil tiba di tangan saya dengan utuh dan selamat. Suka deh dengan ilustrasi ala-ala gambar di koran lokal tahun akhir 1990-an begini. Pada bagian belakang kartu, dituliskan keterangan bahwa yang digambarkan adalah Festival Kesenian Yogyakarta 2014. Gemas. Sebagai warga asli dari provinsi sebelah (Jawa Tengah), nuansa dalam ilustrasi kartunya terasa sangat familier bagi saya juga. Jadi kangen rumah dengan segala urip selo-nya.

Terima kasih juga sudah main-main ke blog saya ya, mas. Tolong jangan kapok mampir kemari meskipun tulisan-tulisan yang saya unggah kebanyakan tidak berkualitas... *tenggelam dalam ketidakpercayaan diri*


Kartupos dari mbak Anggie, yang juga dengan kebaikan dan kemurahan hatinya meninggalkan pesan berbunyi kurang lebih, "Sini aku kirimin kartupos. Minta alamat". Bahkan saya dikirimi dua buah! Seandainya bisa ketemu langsung kayaknya saya bakal sungkem deh, mbak... saking senangnya. Namun di antara dua kartupos yang bertengger di meja saya pagi itu, The Olden Days Indonesia ini lebih menggelitik perhatian saya sehingga terpilih menjadi kartu yang saya pajang di blog. Melihat anak-anak di masa jadul berbagi satu bangku untuk tiga orang di sekolah membuat saya berpikir bagaimana jadinya jika saya sudah lahir di kala itu. Wong sebangku dua orang saja dulu hampir nggak ada yang mau ambil tempat di sebelah saya... hahaha. Barangkali saya bisa menguasai space untuk tiga siswa sendirian. Kayak naik pesawat Boeing di lajur tengah lalu kursi kanan-kiri nggak ada penumpangnya.

Kemerdekaan tersendiri?


Kartupos dari Puti Andiyani (alias @astarlightinthegloom―yang menemani saya berkeliaran dengan liar di The World of Ghibli Exhibition Jakarta bulan lalu) sewaktu masih bisa kelayapan sepuasnya di Prancis. Sekarang yang bersangkutan sudah pulang ke tanah air dan harus berkutat lagi dengan Jawa Barat, tepatnya kota Tangerang, yang sungainya tentu saja tidak selebar dan sefotogenik kota Grenoble. Bagi kalian yang gemar main-main dengan makeup, atau sekadar suka nonton orang dandan karena nggak sanggup dandan sendiri, bisa lho subscribe YouTube channel milik Puti.


Kartupos dari mas Affan yang nasibnya mirip-mirip seperti Puti, cuma bedanya dia belum lama ini pulang dari Jepang. Entah memang disengaja atau tidak, tapi kartupos dengan ilustrasi Tsuutenkaku di Osaka lengkap dengan shopping street di bawahnya terasa cukup nostalgic bagi saya. Sudah lama sekali tidak ke sana, padahal saat masih pertukaran pelajar dulu lumayan sering main ke Osaka―meski SMA dan rumah host family di Kyoto―karena banyak teman-teman sekelas yang tinggal di prefektur tersebut. Apalagi dengan fasilitas kereta yang selalu tepat waktu, jumlah armada terjamin, dan keamanannya relatif terjamin. Ya udah deh jadi bolang melulu.


Kartupos dari seseorang di Taiwan. Buset. Ilustrasinya Taylor Swift, yang sekarang sayang sekali sudah menjadi almarhumah sehingga tidak bisa lagi mengangkat telepon. Istirahatlah dengan tenang, mbak TayTay. Lagu-lagumu hingga album 1989 akan senantiasa saya kenang. Semoga siapa pun yang saat ini mengaku-aku sebagai dirimu di kancah musik Amerika dapat segera dirukyah agar kembali ke jalan yang lurus.

Ngomong-ngomong saya penasaran deh, di mana sih kalian membeli kartupos lucu-lucu dan bagus-bagus kayak gini? Hmm? Coba tolong bagi teman-teman yang tahu, bagi-bagi informasi juga dong di kolom komentar... Ya ya ya? Mau ya? Mau dong. #Pemaksaan.


Kartupos keenam dikirim dari Denmark, dan terus terang, saya suka sekali dengan kombinasi warnanya. Color palette yang terasa sangat kental dengan warna-warna yang keluar saat matahari terbenam meskipun gambarnya sama sekali nggak menunjukkan itu. Bahkan saya nggak tahu itu sebetulnya foto batang sapu, pensil, atau kuas yang belepotan cat? Malah jangan-jangan cuma gulungan kertas kado bermotif abstrak? Hmm. Sungguh misteri yang sukar dipecahkan.

Tukar-menukar kartupos membuat saya menyadari bahwa ternyata, thank god, tulisan tangan saya tergolong mudah dibaca. Apalagi kalau disandingkan dengan tulisan orang-orang yang tinggal di daerah Eropa dan Amerika. Beuh. Rasanya ingin bersikap jumawa. Berkacak pinggang dengan kepala mekar. Ada beberapa kartupos yang pesan-pesannya sama sekali tidak bisa saya baca saking tingkat orisinalitas terlalu tinggi hingga menyerupai sandi rumput. Kartupos dari Spanyol di bawah ini, yang sampai ke meja saya kemarin lusa, termasuk kategori "Western people with neat, readable handwriting" and still it looks very close to notes from a doctor:

Alamatnya saya sensor yah ~

*Googling "Camino de Santiago" dulu*

Oh, ya. Jika ada yang berkenan mengirimi kartupos, saya dengan senang hati akan menerimanya lho! Saling bertukar juga tidak mengapa. Tinggalkan saja pesan di kolom fitur "Leave a Message" yang terletak di bagian bawah blog, karena nantinya akan langsung masuk ke e-mail saya, sehingga informasi pribadi seperti alamat tempat tinggal atau kantor tidak nongol di ruang publik. Tapi mungkin kunci utamanya harus bersabar... sebab sebagaimana yang telah saya katakan sejak awal, entah kenapa pengiriman kartupos dalam negeri justru lebih sulit sampai di tempat tujuan dibandingkan ketika ditujukan ke negara yang berbeda. Huft. Betapa lucunya Indonesiaku.

*Tendang bis surat*
(DEAR LORD WHO STILL REMEMBERS "BIS SURAT" THESE DAYS???)


z. d. imama